alexametrics

Industri 4.0 Bisa Serap 10 Juta Lapangan Kerja

loading...
Industri 4.0 Bisa Serap 10 Juta Lapangan Kerja
Industri 4.0 Bisa Serap 10 Juta Lapangan Kerja. (Dok, Koran SINDO).
A+ A-
JAKARTA - Revolusi Industri 4.0 diharapkan dapat menciptakan tambahan 10 juta lapangan kerja baru hingga 2030 mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah terus menggenjot implementasi roadmap industri 4.0 guna menghadapi perubahan tren dunia yang begitu cepat. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, sejak dilun curkan April 2018 lalu, roadmap industri yang berbasis teknologi internet itu menuntut Indonesia untuk berani melakukan perubahan dan terobosan-terobosan baru.

“Saya harapkan tambahan 10 juta lapangan pekerjaan di 2030 betul-betul diciptakan dengan ini,” kata Presiden saat membuka rapat terbatas di Kantor Presiden, di Jakarta kemarin. Menurut Presiden, datangnya revolusi industri jilid keempat sangat jelas dan terukur.



Untuk itu, sejumlah perbaikan harus dilakukan mulai dari menyinkronkan regulasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan membangun ekosistem inovasi industri yang baik.

“Perbaikan lainnya adalah peningkatan insentif-insentif untuk investasi di bidang teknologi. Mendesain ulang zona-zona industri sampai dengan perbaikan alur aliran bahan materialnya,” paparnya.

Jokowi juga meminta agar perubahan-perubahan itu betul-betul secara nyata dilakukan, terutama di lima sektor industri prioritas. Kelima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, automotif, kimia, dan elektronik.

Selain dapat meningkatkan lapangan kerja, Presiden juga meyakini penguatan Revolusi Industri 4.0 dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) secara signifikan. “Mendorong peningkatan ekspor dan investasi. Dan juga tidak kalah pentingnya adalah peningkatan lapangan pekerjaan baru yang bisa menampung lebih banyak lagi tenagatenaga kerja di negara kita,” katanya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, target 10 juta lapangan kerja baru pada 2030 merupakan hal yang realistis. Dia meyakini adanya Revolusi Industri 4.0 akan membuat lapangan kerja baru.

“Cukup realistis. Kita rata-rata bisa (menyerap) 700.000 tenaga kerja per tahun dari industri keseluruhan. Nanti 4.0 bisa meningkatkan lebih tinggi lagi,” katanya di Kantor Presiden.

Dia mengatakan, kunci dari roadmap Industri 4.0 adalah peningkatan investasi, terutama berkaitan dengan pengembangan industri baru. “Jadi kalau permintaan naik, pabrik bertambah dan kunci dari making Indonesia 4.0 adalah investasi. Makanya investasi ini yang kita dorong,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Airlangga mengungkapkan bahwa sektor yang akan menyerap tenaga kerja banyak di era 4.0 adalah tekstil. Menurutnya, industri pakaian jadi dan alas kaki merupakan salah satu penopangnya.

“Elektronik juga sama, itu menyerap tenaga kerja banyak. Karena semua elektronik kan membutuhkan tenaga kerja yang besar. Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan peraturan presiden (perpres) terkait percepatan implementasi Industri 4.0. Perpres tersebut untuk sinkronisasi kegiatan-kegiatan lintas sektoral.

“Jadi nanti kami lihat sektor apa saja yang bisa diharmonisasi dan supaya eksekusinya bisa lebih lincah. Jadi selain itu arahannya deregulasinya di mana. Jadi nanti akan kami lengkapi dengan apa yang akan dideregulasikan,” katanya.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Joseph Pesik menyebutkan, Revolusi Industri 4.0 membahas ten tang ekonomi digital yang sebe nar nya merupakan keniscayaan untuk bidang ekonomi kreatif.

“Kalau kita bicara soal industri 4.0, menurut saya kita bicara soal digital ekonomi, jadi itu sebenarnya sebuah keniscayaan, bahkan untuk ekonomi kreatif, ke depannya bahkan untuk ekosistem ekonomi global akan mengadopsi digital ekonomi, menurut saya digital ekonomi akan menjadi sebuah keniscayaan,” kata Ricky di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Menurutnya, ekonomi kreatif sepenuhnya ber transformasi dalam platform ekonomi digital. Akselerasi pertumbuhan di sektor ekonomi kreatif bisa terjadi secara berkali lipat ketika berhasil berubah ke ekonomi digital.

“Kalau sekarang kita baru ada potret e-commerce kita, dan pasar e-commerce-nya kita di proyek sikan akan tumbuh hampir 10 kali lipat dalam kurun waktu tidak sampai 10 tahun, jadi itu menurut saya potensi pasar yang besar ada di situ, ya apalagi e-commerce kita isinya produk lokal,” katanya.

Menurutnya, dengan adanya pemanfaatan produk-produk lokal yang ada di Indonesia ini, dalam potensi pasar yang besar, tentunya dapat mendorong keberadaan dari ekonomi kreatif di Indonesia. Ricky menjelaskan, dalam pengembangan ekonomi kreatif itu tanpa meninggalkan kearifan lokal.

“Jadi, kearifan lokal ini tidak mungkin ditinggalkan karena yang menjual itu justru kontenkonten kearifan lokal nanti untuk pasar dunia karena kita berada di era berceritakan, dalam aspek pemasaran storytelling itu penting dan storytelling itu basis adalah kisah-kisah lokal seka - rang,” ucap Ricky.

Terkait pembiayaan ekonomi kreatif, ujar Ricky, Bekraf sebagai lembaga sekaligus wa dah untuk ekonomi kreatif ini akan terus mengajukan pem biayaan yangefektifterhadap pemasaran global.

“Kalau anggaran Bekraf untuk tahun depan Rp800 miliar, sedangkan kalau tahun ini hanya Rp600 miliar, mungkin Bekraf memerlukan anggaran sampai di atas Rp3 triliun itu yang mencakup sebenarnya global marketing untuk produk kreatif yang akan dipasarkan itu,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, industri menengah besar relatif mudah untuk mengadaptasi teknologi industri 4.0 karena sifatnya yang padat modal. Sementara, kata dia, tantangan terberat justru di industri menengah kecil karena terbatasnya investasi di bidang teknologi dan sumber daya manusia (SDM).

“Butuh dorongan pemerintah dalam bentuk insentif bea masuk untuk pembelian mesin, teknologi AI, big data,cyber physical, dan lainnya,” tuturnya. Menurut dia, dari sisi SDM, tantangan ke depan semakin kompleks.

Kebutuhan SDM di bidang teknologi informasi akan meningkat pesat sehingga memaksa institusi pendidikan menyesuaikan kurikulum dengan perubahan teknologi yang cepat. “Global value chain industri juga semakin pendek. Beberapa rantai produksi di prediksi akan hilang,” jelasnya. (Dita Angga/ Ichsan Amin/ Oktiani Endarwati/Ant)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak