alexametrics

Keindahan Budaya Nusantara dalam Kriyanusa 2019

loading...
Keindahan Budaya Nusantara dalam Kriyanusa 2019
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) kembali menyelenggarakan pameran Kriyanusa 2019, 11 sampai dengan 15 September 2019 di Balai Kartini, Jakarta
A+ A-
JAKARTA - Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) kembali menyelenggarakan pameran Kriyanusa 2019, 11 sampai dengan 15 September 2019 di Balai Kartini, Jakarta. Kriyanusa adalah ikon pameran kerajinan terbesar yang ditujukan sebagai wadah promosi produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Dekranas di seluruh Indonesia.

Tahun ini, Kriyanusa mengangkat “Motif Pucuk Rabuang”, motif “Kuncup Bambu” ini umumnya dijumpai di kain-kain tenun Jawa dan Sumatera, termasuk Minangkabau. Lambang ini mengandung pepatah, “Mulia di usia muda, Lebih lagi di usia dewasa”.

Bambu yang masih kuncup sangat lembut dan bergizi disantap. Namun, setelah dewasa berdiri kokoh menjulang tinggi namun merunduk rendah hati. Motif ini juga digunakan sebagai inspirasi utama materi publikasi Kriyanusa.



Selain “Motif Pucuk Rabuang”, Kriyanusa 2019 juga memperkenalkan produk budaya “Suntiang”. Suntiang adalah perhiasan kepala bertingkat berwarna keemasan yang dipakai oleh perempuan Minangkabau. Hiasan ini berbentuk setengah lingkaran yang terdiri dari susunan ornamen bermotif flora dan fauna di antaranya diambil dari bentuk bunga mawar, pisang, burung merak, kupu-kupu, dan ikan.

Ukuran suntiang berbeda menurut pemakaiannya. Suntiang yang dipakai pengantin perempuan memiliki ukuran besar atau disebut suntiang gadang. Sedangkan suntiang berukuran kecil atau suntiang ketek dipakai oleh pendamping pengantin perempuan. Berat suntiang berkisar antara 3,5 sampai 5 kg.

Kedua motif itu juga berpadu dengan “Motif Bada Mulia”. Sebuah motif yang menggambarkan ikan teri berenang beriring-iringan pulang. Maknanya adalah bahwa usaha mengatasi suatu persoalan harus dimulai dari intinya. Jika dalam kesulitan, carilah bantuan dari mereka yang sepemikiran.

Selain itu juga ada “Motif Aka Cino”. Motif ini mengajak orang untuk ingat pada cara berpikir orang Tionghoa, warisan kekaguman orang Minang pada orang Tionghoa yang selalu berbagi kesuksesan di perantauan dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman. Seperti “aka” (akar), mereka menjalar dan berjejaring.

Keempat produk budaya asli Nusantara itu adalah sebagian dari kekhasan yang ditampilkan dalam Kriyanusa 2019. Pameran kerajinan yang mengangkat tema “Peningkatan Daya Saing Produk Kerajinan Melalui Pengembangan Kreatifitas & Kewirausahaan” ini diikuti oleh Dekranasda seluruh Indonesia yang memfasilitasi perajin di wilayahnya masing-masing.

Selain pameran, Kriyanusa 2019 juga menampilkan berbagai pertunjukan fashion show, workshop, pentas seni budaya, penampilan dari Golden Mum's, live music performance dan rama kuliner Nusantara.

“Melalui pameran Kriyanusa 2019, Dekranas ingin memberikan ruang bagi perajin Indonesia untuk memperkenalkan produk-produk unggulannya hasil kerajinan daerah ke masyarakat yang lebih luas tanpa dipungut bayaran sepeserpun alias gratis,” ujar Triana Rudiantara, Ketua Bidang Humas, Promosi dan Publikasi Kriyanusa 2019.
(alf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak