alexametrics

OPEC Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak di 2020

loading...
OPEC Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak di 2020
OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2020 akibat pelambatan ekonomi global. Foto/Ilustrasi
A+ A-
LONDON - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) merevisi perkiraan pertumbuhan permintaan minyak mentah tahun 2020 akibat pelambatan ekonomi global. Seiring dengan itu, OPEC menekankan perlunya upaya lebih lanjut untuk mencegah terjadinya kembali kelebihan produksi.

Dalam laporan bulanannya, OPEC menyebutkan bahwa permintaan minyak mentah dunia akan bertambah 1,08 juta barel per hari (bph), lebih rendah 60.000 bph dari perkiraan sebelumnya, dan mengindikasikan akan terjadinya surplus pasar.

Outlook yang lebih rendah di tengah berkecamuknya perang dagang AS-China serta gonjang-ganjing Brexit dinilai dapat memengaruhi kebijakan OPEC dan sekutunya untuk mempertahankan atau menyesuaikan kebijakannya soal pemangkasan produksi.



OPEC dalam laporannya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 menjadi hanya 3,1% dari sebelumnya 3,2% dan menyatakan bahwa kenaikan permintaan minyak tahun depan akan kalah dari pertumbuhan suplai minyak yang diproduksi produsen minyak saingannya, seperti AS.

"Hal ini menegaskan adanya tanggung jawab bersama dari negara-negara produsen untuk menjaga stabilitas pasar minyak guna menghindari gejolak yang tak diinginkan dan potensi kembalinya ketidakseimbangan di pasar," ungkap laporan tersebut seperti dikutip Reuters, Rabu (11/9/2019).

OPEC, Russia dan sejumlah produsen lainnya sejak 1 Januari lalu telah menerapkan kebijakan pemangkasan produksi hingga 1,2 juta bph. Kerja sama yang dinamai OPEC+ tersebut pada Juli memperbarui pakta pemangkasan produksi hingga Maret 2020. Komite aliansi tersebut akan mengkaji ulang pakta tersebut pada Kamis besok.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak