alexametrics

Hindari Dutch Disease, Ekonomi Kreatif Indonesia Harus Berkembang

loading...
Hindari Dutch Disease, Ekonomi Kreatif Indonesia Harus Berkembang
Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Fadjar Hutomo (kanan) di Jakarta, Jumat (13/9/2019). Foto/SINDOnews/Michelle Natalia
A+ A-
JAKARTA - Struktur ekonomi Indonesia selama ini banyak bertumpu pada komoditas yang kemudian dijual dalam bentuk bahan mentah. Bahaya yang perlu diwaspadai dari ketergantungan terhadap komoditas adalah Dutch Disease, fenomena yang terjadi ketika sebuah negara memiliki kekayaan alam melimpah namun Produk Domestik Bruto atau PDB-nya tidak berimbang dengan kekayaan itu meskipun negara itu melakukan ekspor komoditas.

"Belanda menemukan cadangan gas di Laut Utara, tetapi yang terjadi adalah ekonomi Belanda terpuruk. Karena terlena dengan kekayaan alam ini, kita lupa membuat infrastruktur sektor lain dari ekonomi yang lebih sustainable secara jangka panjang seperti manufaktur maupun industri berbasis penelitian dan kreativitas," ujar Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Oleh karena itu, mengutip Presiden RI Joko Widodo, ekonomi kreatif (ekraf) harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. UKM Indonesia dibandingkan dengan Filipina dan Vietnam saat ini dinilai lebih rapuh karena lebih banyak pedagang daripada pembuat (produsen).



"E-commerce kita memang maju, dan para unicorn kita bergerak di bidang itu, tapi seberapa banyak produk Indonesia yang diperdagangkan di dalamnya? 70% masih produk impor," tukasnya.

Fadjar menjelaskan bahwa ekraf dinilai ideal karena beberapa faktor. Pertama, hemat energi karena berbasis pada kreativitas. Kedua, ekraf hanya menggunakan sedikit sumber daya alam untuk prosesnya. Ketiga, ekraf menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi.

"Kami mendorong ekraf yang inklusif supaya semua orang bisa produktif dan meningkatkan penghasilan pribadi sehingga pengangguran bisa berkurang," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah atau PR untuk memperbanyak produk kreatif untuk diekspor ke luar negeri. Sejauh ini, ekspor produk kreatif yang konsisten adalah kain nusantara seperti batik dan tenun, namun Indonesia masih perlu mendorong ekspor variasi produk kreatif lainnya.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak