alexametrics

Waspada Serangan Drone, Sistem Keamanan Kilang Minyak Perlu Ditingkatkan

loading...
Waspada Serangan Drone, Sistem Keamanan Kilang Minyak Perlu Ditingkatkan
Ilustrasi pesawat tanpa awak (drone). Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah meminta kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) melakukan antisipasi ancaman dari luar terhadap fasilitas produksi maupun kilang minyak di dalam negeri. Hal itu menyusul terjadinya serangan pesawat nirawak (drone) terhadap fasilitas kilang milik Saudi Aramco di Arab Saudi.

“Kita himbau supaya fasilitas kilang maupun produksi minyak pasang anti drone. Jadi drone tidak bisa masuk ke wilayah fasilitas kilang ataupun produksi,” ujar Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto, di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Menurut dia, sistem pengamanan fasilitas produksi maupun kilang perlu ditingkatkan seiring perkembangan teknologi. Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) tersebut beranggapan bahwa sistem pengamanan yang canggih memang sudah menjadi tuntutan perkembangan zaman mengamankan proyek vital nasional. “Memang ini sudah tuntutan zaman, apalagi merupakan proyek vital nasional,” kata dia.



Pihaknya juga memastikan serangan pada fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco di Arab Saudi akhir pekan lalu tidak berpengaruh terhadap ekspor minyak mentah ke Indonesia.

Pasalnya, impor minyak mentah dari Arab Saudi jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 110.000 barel per hari (bph) jauh dibandingkan total produksi dari fasilitas kilang Saudi Aramco mencapai 13,6 juta bph.

Akibat dari kejadian tersebut produksi Saudi Aramco yang terganggu hanya sekitar 5,7 juta bph, artinya masih sisa 7,9 juta bph.

Di sisi lain, imbuhnya, fasilitas produksi kilang Saudi Aramco yang terbakar bukan yang digunakan untuk melakukan ekspor ke Indonesia. “Sejauh ini masih aman. Mudah-mudahan segera kembali normal,” kata dia.

Dia memastikan bahwa Saudi Aramco tetap memenuhi komitmennya dalam melakukan ekspor minyak mentah ke Indonesia. Selain itu, pihaknya juga sedang menyiapkan pengamanan pasokan minyak di dalam negeri guna mengantisipasi apabila terjadi gangguan dari luar.

Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) berencana membeli minyak perdana bagian ExxonMobil di Blok Cepu sebesar 600.000 barel. Rencananya pembelian perdana akan dilakukan pada 20 September 2019 mendatang.

“Kita nanti mau beli minyak ExxonMobil. Tanggal 20 September pengapalam perdana,” ungkap dia.

Meski begitu, pihaknya tidak menampik terbakarnya kilang Saudi Aramco berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Pada awal pekan ini harga minyak Brent dari USD67,10 per barel pada Senin (16/9/2019) lalu meningkat menjadi USD67,83 per barel pada Selasa (17/9/2019).

Namun demikian pihaknya memastikan asumsi harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) dalam APBN 2020 sebesar USD63 per barel masih cukup aman. “Tapi ini kan cuma kira-kira saja. Angka USD63 per barel untuk 2020 masih aman,” jelas dia.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak