alexametrics

CORE: BI Rate Turun Dampaknya Belum Terasa Dalam Waktu Dekat

loading...
CORE: BI Rate Turun Dampaknya Belum Terasa Dalam Waktu Dekat
Kebijakan BI menurunkan suku bunga dan melonggarkan likuiditas tidak akan secara spontan meningkatkan pertumbuhan kredit. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, dampak penurunan suku bunga memang belum terasa, belum tertransmisikan ke penurunan suku bunga kredit. Pertumbuhan kredit juga belum mengalami lonjakan yang berarti.

"Demikian juga dengan investasi. Tapi penurunan suku bunga akumulatif sebesar 25 bps ini sangat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kita di tengah perlambatan ekonomi global," kata Piter saat dihubungi, Kamis (19/9/2019).

Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) hari ini memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25% dari sebelumnya 5,50%.



Melalui kebijakannya yang secara konsisten menurunkan suku bunga BI menegaskan komitmennya mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut Piter, stabilitas tetap penting, tapi di tengah perlambatan ekonomi global sekarang ini BI berani untuk lebih mengutamakan pertumbuhan. Ini adalah bentuk nyata kebijakan yang counter cyclical.

"Sayangnya kebijakan BI yang agresif melonggarkan likuiditas dan menurunkan suku bunga dalam rangka menstimulus perekonomian justru tidak diimbangi oleh kebijakan fiskal," ujarnya.

Kebijakan fiskal justru terlihat main aman, mengedepankan stabilitas ketimbang pertumbuhan. Hal ini terlihat nyata di postur APBN 2019 dan juga RAPBN 2020 dimana pemerintah berusaha meningkatkan penerimaan pajak dan menurunkan defisit.

"Peningkatan penerimaan pajak cenderung akan menahan pertumbuhan. Demikian juga dengan mengurangi defisit. Tidak memiliki semangat mendorong pertumbuhan," imbuh dia.

Dia menambahkan, kebijakan BI menurunkan suku bunga dan juga melonggarkan likuiditas memang tidak akan secara spontan meningkatkan pertumbuhan kredit.

"Ada lag (jeda respon) sekitar satu sampai dengan dua kuartal baru akan berdampak, pertama ke suku bunga kredit dan kemudian ke pertumbuhan penyaluran kredit," pungkasnya.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak