alexametrics

Gubernur BI Pastikan Indonesia Tidak Alami Resesi

loading...
Gubernur BI Pastikan Indonesia Tidak Alami Resesi
Bank Indonesia (BI) memastikan Indonesia tak sedang mengalami resesi meski perekonomian global tengah bergejolak. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan Indonesia tidak mengalami resesi akibat gejolak ekonomi global. Sementara beberapa negara maju saat ini telah mengalami resesi ekonomi akibat ketidakpastian global.

Perry mengatakan, Indonesia tidak mengalami resesi karena ekonomi masih tumbuh dan terjaga. Dia mengingatkan, perekonomian baru disebut mengalami resesi bisa terjadi penurunan pertumbuhan secara berturut-berturut.

"Resesi itu yaitu ketika sebuah negara pertumbuhannya turun secara turut-berturut tapi kita belum mengalami itu. Kita prediksi pertumbuhan ekonomi masih akan terjaga di kisaran 5,2% dan tahun depan 5,1%," ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019).



Dia pun menegaskan bahwa BI selaku bank sentral akan terus melonggarkan kebijakan moneternya menyesuaikan perlambatan ekonomi global yang kini terjadi.

"Kita akan melanjutkan bauran kebijakan akomodatif dengan memangkas suku bunga, memperlonggar makroprudensi, sistem pembayaran dan operasi moneter," jelasnya.

Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia turut terpengaruh kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan tersebut. Ekspor diperkirakan belum membaik seiring permintaan global dan harga komoditas yang menurun, meskipun beberapa produk ekspor manufaktur seperti kendaraan bermotor tetap tumbuh positif.

"Kondisi ini berdampak pada belum kuatnya pertumbuhan investasi, khususnya investasi nonbangunan, sementara pertumbuhan investasi bangunan cukup baik didorong oleh pembangunan proyek strategis nasional," jelasnya.

Ke depan, bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah diprakirakan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Sehingga (pertumbuhan) berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4% pada 2019 dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5% pada tahun 2020," jelasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak