alexametrics

TBBM Pertamina Rewulu Bina Desa Gamol Jadi Ekonomi Ramah Lingkungan

loading...
TBBM Pertamina Rewulu Bina Desa Gamol Jadi Ekonomi Ramah Lingkungan
TBBM Pertamina Rewulu bina Desa Gamol menjadi ekonomi ramah lingkungan. Foto/Dok.
A+ A-
JAKARTA - Desa wisata budaya (Deswitadaya) Gamol yang terletak di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan desa binaan Terminal BBM Pertamina Rewulu yang telah diluncurkan sejak 24 Oktober 2018 lalu.

Desa ini, selain menjadi tempat tujuan wisata dan edukasi, juga merupakan tempat peternakan serta pengolahan produk susu kambing Etawa, pemberdayaan dan olahan jamur tiram, dan pengolahan sampah menjadi kerajinan.

"Sebelum menjadi program CSR, kami melakukan pemetaan sosial di desa ini untuk mengidentifikasi karakteristik dan kebutuhannya. Kami lihat bahwa desa ini berpotensi di bidang peternakan kambing, dan saat ini berkembang menjadi pengolahan jamur dan juga sampah," ujar Operation Head TBBM Rewulu, Rahmad Febriadi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (19/9/2019).



Rahmad menjelaskan bantuan CSR yang diberikan ini bukanlah bantuan tunai, melainkan pihak TBBM Rewulu memberikan bantuan langsung berupa material bangunan untuk kandang dan sisa dananya digunakan untuk memberikan 4 ekor kambing di awal tahun 2012, karena budaya gotong royong di masyarakat sangat kuat. Sebelumnya, pihak Pertamina sudah melakukan pelatihan dan pembinaan sejak tahun 2010.

"Konsep awal dari desa ini adalah pemberdayaan dan edukasi masyarakat sekitar. Tadinya lahan disini mangkrak, namun sekarang bisa dimanfaatkan untuk pertanian pangan dan peternakan kambing yang memiliki nilai ekonomis," ujar Pembina Deswitadaya Gamol Tamtama.

Ia menambahkan bahwa saat ini terdapat sebanyak 27 ekor kambing etawa betina dan 1 ekor kambing etawa jantan yang diternakkan di Desa Gamol. Peternakan kambing ini dikelola oleh kelompok Dwitunggal Sukoreno.

"Kami melakukan penjualan produk olahan susu kambing etawa di ranah lokal, karena produk kami masih diproses di BPOM, saat ini sudah mencapai hingga 60%. Kami menjual susu segar, serbuk susu, kerupuk susu, hingga anak dan kotoran kambing," ujar Tamtama.

Tamtama menyebutkan bahwa susu segar kambing Etawa dijual sebesar Rp19.000 per liter, dan anak kambing dijual sebesar Rp1 juta per ekornya. Per harinya, satu ekor kambing bisa menghasilkan 1,5-2 liter susu.

"Kami punya gagasan bahwa kondisi ekonomi seseorang bergantung pada pola pikirnya. Dengan merubah pola pikir, pastinya akan ada dampak terhadap kehidupan ekonominya. Mereka akan merasakan sendiri hasil kerjanya dari peternakan kambing ini, karena perlakuan berbeda terhadap kambing akan memberikan hasil yang berbeda pula," tambah Tamtama.

Selain olahan susu kambing dan ternak kambing Etawa, Desa Gamol juga memiliki usaha ekonomi ramah lingkungan melalui PEPELE (Penduduk Peduli Lingkungan). Pemuda karang taruna Gamol mengolah sampah menjadi kerajinan dan produk lainnya yang bernilai ekonomis seperti tas, topi, mainan, dan cinderamata unik.

Usaha budidaya dan olahan jamur tiram yang dikelola oleh kelompok Srikandi di Desa Gamol saat ini sudah menjadi usaha mandiri, lepas dari binaan TBBM Rewulu. Produk-produk seperti sate dan bakso jamur tiram kerap menjadi pesanan untuk catering dan dijual secara online.

"Kami berharap, bahwa nantinya desa ini bisa menjadi desa wisata budaya yang sepenuhnya mandiri dan hasil usahanya bisa berkelanjutan untuk masyarakat," tutur Rahmad.

Program CSR yang berkelanjutan merupakan upaya TBBM Rewulu untuk mempertahankan dan meningkatkan Proper Emas yang telah diraihnya sejak tahun 2013-2018.

"Salah satu poin tertinggi dalam mencapai Proper Emas adalah pemberdayaan masyarakat dan keanekaragaman hayati. Untuk itu, Pertamina akan selalu memperhatikan keberlangsungan program CSR untuk dapat berkelanjutan dan tujuan akhir yaitu mensejahterakan masyarakat tercapai," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak