alexametrics

Gunung Raja Paksi Raih Dana IPO Rp1,033 Triliun

loading...
Gunung Raja Paksi Raih Dana IPO Rp1,033 Triliun
Gunung Raja Paksi Raih Dana IPO Rp1,033 Triliun. (Dok. SINDOphoto).
A+ A-
JAKARTA - Emiten industri baja PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) secara resmi mencatatkan saham (listing) di Bursa efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum saham perdana (initial public offering/ IPO) yang menjadi emiten ke- 36 tahun ini.

Saat pencatatan saham perdana, GGRP langsung naik Rp85 (10,12%) ke Rp925 per saham dari harga penawaran Rp840 per saham. Saham perusahaan baja asal Cikarang ini diperdagangkan dengan frekuensi sebanyak satu kali dengan volume 100 lot saham dan menghasilkan nilai sebesar Rp9,25 juta.

Presiden Direktur GGRP, Alouisius Maseimilian menjelaskan, perseroan melepas sebanyak 1,23 miliar lembar saham dengan harga penawaran Rp840 per saham sehingga GGRP meraih dana segar sebesar Rp1,033 triliun dari lantai bursa.



“Dalam masa penawaran umum, perseroan oversubscribe (kelebihan permintaan) sebanyak sembilan kali,” katanya di Jakarta, kemarin. Dalam aksi korporasi ini, perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi.

Menurut Alouisius, dana yang diperoleh dari hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, sekitar 99,52% akan digunakan untuk pelunasan utang dalam pembelian aset tetap dan biaya operasi serta sekitar 0,48% akan digunakan untuk tambahan modal kerja.

“Harapannya, ke depan produktivitas bisa ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang masih luas,” katanya. Diketahui, pemain industri baja di Indonesia masih memiliki peluang sangat luas untuk bertumbuh, mengingat konsumsi baja per kapita Indonesia yang masih rendah dan kapasitas produksi baja domestik yang masih belum bisa memenuhi permintaan sehingga membuat Indonesia masih melakukan impor baja.

Indonesia memiliki pertumbuhan GDP rata-rata tahun 2018 sekitar 5,17% per tahun dan kuartal I/2019 sekitar 5,07%. Dengan adanya pertumbuhan ini, konsumsi baja per kapita ikut bertumbuh.

Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena memiliki tingkat konsumsi berpotensi bertambah menyamai negara-negara tetangga di masa mendatang.

Selain itu, dengan meningkatnya anggaran infrastruktur akan mendorong konsumsi baja nasional. Menurut data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), konsumsi baja per kapita Indonesia paling rendah di antara negara ASEAN. (Heru Febrianto)

(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak