alexametrics

Dominasi Pasar Dunia, Tiap Tahun Indonesia Produksi 1,41 Miliar Pasang Sepatu

loading...
Dominasi Pasar Dunia, Tiap Tahun Indonesia Produksi 1,41 Miliar Pasang Sepatu
Kemenperin menggelar program kompetisi desain sepatu untuk mendorong tumbuhnya industri alas kaki dalam negeri. Foto/SINDOnews/Arif Budianto
A+ A-
BANDUNG - Produk alas kaki buatan Indonesia ternyata mendominasi pangsa pasar dunia. Hal itu terlihat pada besarnya volume produk alas kaki yang menempati posisi keempat dunia pada tahun 2018.

Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawanigsih, mengatakan saat ini Indonesia menempati posisi keempat produksi alas kaki dunia yang tercatat sepanjang tahun 2018. Pada periode tersebut, industri alas kaki di Indonesia mencatatkan jumlah produksi 1,41 miliar pasang sepatu.

"Produk alas kaki Indonesia berkontribusi 4,6% dari total produksi sepatu dunia. Walaupun memang untuk produk ekspornya masih didominasi produk industri besar," kata Gati di Bandung, Minggu (22/9/2019).



Kementerian Perindustrian mencatat ekspor alas kaki nasional juga mengalami peningkatan hingga 4,13%, dari tahun 2017 sebesar USD4,91 miliar menjadi USD5,11 miliar di tahun 2018.

Dari sisi harga, kata Gati, produk sepatu Indonesia kalah bersaing bila dibandingkan produk China. Namun produk alas kaki Indonesia memiliki kualitas dan inovasi yang lebih baik. Hal itu juga yang menjadi daya tarik bagi produk sepatu dalam negeri di kancah global.

Kinerja produk alas kaki Indonesia yang cukup baik, diakui dia, menunjang ekonomi Indonesia. Sepanjang tahun 2018, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki mampu memberikan kontribusi dalam struktur PDB yang cukup besar. Terutama pertumbuhan produksi kuartal II 2018 yang mampu menyumbang 27,73%.

Dia berkeyakinan, industri alas kaki nasional akan terus tumbuh, seiring membaiknya kondisi ekonomi. Apalagi untuk mendorong industri kecil dan menengah (IKM) pada sektor ini, pemerintah memberikan subsidi regenerasi mesin.

Dimana bagi industri perorangan dan lembaga bisa mendapatkan subsidi hingga 30%. Artinya, bila membeli mesin baru senilai Rp1 miliar, mereka bisa mendapatkan subsidi Rp300 juta.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak