alexametrics

MNC Group Konsisten Terdepan dalam Bisnis TV Konvensional dan Konten Digital

loading...
MNC Group Konsisten Terdepan dalam Bisnis TV Konvensional dan Konten Digital
Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT). Foto/Dok SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA - PT MNC Investama Tbk atau lebih dikenal dengan MNC Group konsisten mengembangkan tiga divisi bisnis yaitu media, layanan keuangan dan lifestyle property.

Seiring tren digital, bisnis media MNC Group berkembang tak hanya televisi dan konten (MNCN), tapi juga media PayTV dan Broadband (MNC Vision/MVN).

"MNC bukanlah media konvensional lagi, karena sampai saat ini terbukti MNC bisa menumbuhkan konten digital tanpa melepas bisnis televisi konvensional," ujar Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) dalam MNC Group Investor Gathering di Jakarta, Rabu (25/9/2019).



HT menjelaskan bahwa basis dari bisnis televisi adalah iklan, sebanyak 60% iklan masih ditayangkan di TV nasional meskipun konten digital sedang tumbuh pesat.

"Yang tergerus adalah iklan melalui radio dan media cetak, sementara iklan digital diprediksi akan tumbuh hingga 25% dalam tiga tahun mendatang. Karena Indonesia ini negara kepulauan, TV adalah platform yang paling mudah menjangkau masyarakat. Adapun internet (digital) belum bisa menyaingi televisi selama wilayah-wilayah di Indonesia masih belum terkoneksi internet yang murah, stabil dan cepat," tuturnya.

Saat ini, jumlah basis pemirsa MNC group lebih dari 100 juta orang. Market share iklan untuk TV di Indonesia sebanyak 45% masuk ke MNC Group.

"Pendapatan iklan dan konten (program dan channel) juga didongkrak oleh NTC (non-time consuming) ads, dengan meletakkan produk dalam program konten kami. Selain itu, pasti ada slot iklan yang tak terjual, nanti kami kasih airtime kepada perusahaan yang butuh iklan dan kami mendapat share saham mereka, seperti dengan I-Flix," ungkapnya.

HT mengatakan bahwa konten pencarian bakat seperti Indonesian Idol sangat diminati. Dalam 1 jam tayang misalnya, program ini bisa mendatangkan revenue sampai Rp3 miliar.

"Kami sangat dominan dalam program talent searching karena infrastruktur mendukung. Dengan studio terluas di Asia Tenggara, kami menjadi satu-satunya media yang bisa membuat dan mengakomodasi talent searching yang berjumlah besar," tambah HT.

HT mengungkapkan bahwa MNC bisa menjaga production cost karena pada saat yang sama 7MNC juga mengelola talent yang diproduksi dari talent search itu.

"Karena bisnis konten digital sedang tumbuh, kami juga sedang mendorong pendapatan digital. Pendapatan digital dari Youtube kami peroleh melalui third party content creator yang baru kami mulai Agustus 2019, original content dengan klien kami, dan mini clip dari konten TV kami," lanjut ia.

HT memaparkan bahwa konten TV diedit menjadi miniclip berdurasi 4-7 menit durasi, total viewsnya mencapai 20,1 miliar pada Agustus 2019. Dengan total subscriber sebanyak 42 juta di Youtube, secara global, MNC adalah salah satu penghasil views terbesar.

"Dengan 80% konten lokal yang kami produksi dan tingginya pemirsa konten lokal, RCTI Mobile App juga sudah diluncurkan dan bisa didownload. Diharapkan tahun depan bisa meraup hingga Rp300 miliar," tutur HT.

Harga saham MNCN sudah meningkat karena menunjukkan fokus bisnisnya ke arah ke digital dan pertumbuhannya mencapai yang dua digit.

Selain itu, dia menambahkan bahwa MNC vision dan K-Vision mendapatkan pelanggan baru rata-rata sejumlah 4.500-5.000 orang per harinya, meningkat dari yang sebelumnya hanya 1.000 orang per hari.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak