alexametrics

Jutaan Pekerjaan Baru Muncul Seiring Perkembangan Teknologi

loading...
Jutaan Pekerjaan Baru Muncul Seiring Perkembangan Teknologi
Jutaan Pekerjaan Baru Muncul Seiring Perkembangan Teknologi
A+ A-
JAKARTA - Jutaan jenis pekerjaan baru diperkirakan muncul dalam satu dekade ke depan seiring perkembangan teknologi otomatisasi dan kecerdasan buatan. Untuk itu, Indonesia perlu mempersiapkan transisi keterampilan (skill) yang akan nantinya bisa mengadopsi teknologi. Laporan terbaru McKinsey & Company menyebutkan, ekonomi Indonesia pada 2030 mendatang diproyeksikan menciptakan 27–46 juta pekerjaan baru.

Hal ini didorong meningkatnya pendapatan, anggaran teknologi, pembangunan infrastruktur, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi. Menurut firma konsultasi manajemen tersebut, secara keseluruhan tipe pekerjaan di masa depan akan bergeser ke arah layanan dan menjauh dari pekerjaan dengan potensi automasi yang tinggi, seperti pemrosesan data dan pekerjaan fisik yang dapat diprediksi.

Sektor konstruksi, manufaktur, layanan kesehatan, akomodasi, kuliner, pendidikan, dan ritel kemungkinan akan cenderung mengalami peningkatan permintaan tenaga kerja selama periode tersebut. Namun, sektor lainnya seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, instalasi mesin, dan pemadam kebakaran diperkirakan lebih sulit untuk diautomasi.



Menurut laporan itu, di samping pekerjaan yang hilang dan muncul, hampir semua pekerjaan akan berubah. Secara global, McKinsey memperkirakan bahwa 60% dari semua pekerjaan memiliki sekitar 30% aktivitas pekerjaan yang dapat diotomatisasi.

Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan sebanyak 23 juta pekerjaan di Indonesia akan digantikan oleh otomatisasi. Managing Partner Indonesia dan Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia Phillia Wibowo mengatakan, meningkatnya adopsi otomatisasi dan kecerdasan buatan akan mengubah dunia pekerjaan.

Teknologi tersebut akan membawa manfaat yang signifikan bagi perekonomian Indonesia, termasuk peningkatan produktivitas, pertumbuhan, pendapatan, dan lapangan kerja. "Untuk itu, semua pemangku kepentingan di Indonesia perlu meningkatkan keterampilan tenaga kerja untuk mewujudkan potensi tersebut," ujar Phillia di Jakarta, Rabu (25/9).

Laporan terbaru McKinsey sejalan dengan hasil riset Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, yang menyatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menambah tenaga kerja sekitar 10 juta orang hingga 2035. Menurut BPSDMI, pada tahapan tersebut industri di dalam negeri akan melewati fase penggunaan robot untuk automasi dan langsung menggunakan sensor dan big data.

“Target 10 juta lapangan kerja baru pada 2030 merupakan hal yang realistis karena industri 4.0 dapat membuat lapangan kerja baru. Cukup realistis. Karena rata-rata keseluruhan industri bisa menyerap 700.000-an tenaga kerja per tahun. Nanti dengan Industri 4.0 bisa meningkat lebih tinggi lagi," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu.

Phillia melanjutkan, tren ke depan, otomatisasi secara parsial dalam pekerjaan akan menjadi hal yang umum, sedangkan otomatisasi penuh kemungkinannya jauh lebih kecil. Namun, yang jelas akan ada perubahan banyak sifat pekerjaan. Misalnya self-service checkout akan menggeser peran kasir ke arah membantu pelanggan secara langsung, dibandingkan hanya memproses transaksi.

Dia menambahkan, automasi sering kali terfokus pada risiko masa depan pekerjaan. Namun dalam laporan McKinsey, menunjukkan bahwa akan lebih banyak pekerjaan baru yang diciptakan dibandingkan yang hilang. Hal ini didorong oleh peningkatan pengeluaran konsumen dan infrastruktur. "Peran pemerintah menjadi penting untuk memberikan insentif yang tepat," imbuhnya.

Secara umum, penelitian McKinsey menemukan bahwa otomatisasi berpotensi meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), serta dapat menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi bagi pekerja Indonesia dan menciptakan peluang pasar bagi perusahaan Indonesia.

Ritel dan Jasa

Di bagian lain, Direktur Riset Iconomics Alex Mulya mengatakan tren ke depan akan memunculkan banyak ide dari masyarakat yang mengetahui secara pasti segmen pasar sebuah bisnis. Beberapa sektor yang masih akan menjadi andalan adalah perdagangan ritel dan jasa. Hal ini karena penggunaan teknologi 4.0 berbasis teknologi masih sangat minim.

“Sehingga masyarakat akan mencari yang praktis dan lebih mudah dilakukan," ujarnya di sela-sela diskusi 'BUMN di Tengah Pusaran Milenial dan Disrupsi Digital' di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, berdasarkan temuan Iconomics, sangat sedikit perusahaan besar yang turun ke lapangan dan bisa lebih kompetitif. Kecenderungan ini karena adanya kebiasaan tidak mau repot dan tidak mau mengambil risiko.

“Kondisi ini memicu adanya tren keinginan untuk berwirausaha pada generasi milenial sangat tinggi. Peluangnya masih sangat besar sehingga membutuhkan dukungan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana,” katanya. Melihat kondisi tersebut, dibutuhkan pelaku usaha berbasis digital untuk memajukan dan mendorongnya agar kompetitif.

Dia mencontohkan, munculnya perusahaan transportasi daring yang bertransformasi menjadi penyedia berbagai layanan sehingga bisa kompetitif dengan pelaku usaha lain. Menurut Alex, keberanian generasi muda ambil risiko untuk ekspansi bisnis patut diapresiasi. Tak heran jika nantinya penerapan teknologi seperti artificial intelligence akan lebih marak.

"Pelaku fintech nanti akan berani ambil risiko karena punya data dan logis. Mereka berani keluar," ujarnya. Sementara itu, Direktur Human Capital BRI Herdy Harman berpendapat para pelaku bisnis menyadari tantangan kebutuhan SDM ke depannya. Menurutnya, strategi paling menarik yang akan dikembangkan di masa depan adalah talent pool. Perseroan, kata dia, harus menjadi sangat menarik bagi talenta terbaik untuk melamar.

"Kami harus jaga talenta unggul yang sudah masuk. Mereka harus betah terutama dalam industri yang kompetitif. Tim Human Capital harus kreatif memberikan penawaran seperti jam kerja fleksibel. yang penting produktif. Ini harus terus diantisipasi," ujar Herdy. Dia mengakui tantangan bisnis ke depan sangat butuh talenta unggulan dan area untuk berkolaborasi.

Selain itu, mereka harus didukung untuk bisa bekerja di mana saja. Bahkan pusdiklat, ke depannya akan ke arah virtual supaya fleksibel. "Karena para atasan akan marah karena harus fokus kejar target, sehingga kami juga harus kreatif. Bikin knowledge system di gadget dan mereka bisa belajar di mana saja," ujarnya.

Dia juga menekankan bahwa dalam rekrutmen, pihaknya tidak terlalu tertarik dengan indeks prestasi tinggi. Syarat utama adalah harus lulus dalam tes yang dilakukan perseroan. "Kita cenderung mencari anak muda yang aktif dan peduli masalah kebangsaan. Anak muda di startup, misalnya, berorientasi sosial dalam mengembangkan aplikasi. Itu yang kami butuhkan," tegasnya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak