alexametrics

Inflasi Sumut Sangat Tinggi, Gubernur Edy Sebut Kategori Krisis

loading...
Inflasi Sumut Sangat Tinggi, Gubernur Edy Sebut Kategori Krisis
Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi menilai tensi inflasi di Sumut saat ini sudah dalam kategori krisis. Foto/Andi Yustri
A+ A-
MEDAN - Inflasi Sumatera Utara (Sumut) hingga September 2019 tercatat sangat tinggi yakni 3,49% atau jauh di atas rata-rata nasional yang mencapai 2,20%. Terkait hal itu, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi menilai tensi inflasi di Sumut saat ini sudah dalam kategori krisis.

"Inflasi Sumut saat ini sudah sangat tinggi krisis, di atas rata-rata nasional. Kalau kita manusia, sudah stroke kita ini. Tensi inflasi kalau ketinggian bisa stroke, kalau kebawahan juga bisa stroke," kata Edy Rahmayadi saat Rapat Koordinasi Pemda se-Sumatera Utara tahun 2019 .

Dikatakannya, Sumut saat ini kalah dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), karena inflasi di NTT masih lebih bagus dibandingkan dengan di Sumut. Padahal, lanjutnya, di Sumut itu semuanya ada, potensi, demografi begitu tinggi, SDM, kekayaan alam sehingga menurutnya tidak ada alasan masyarakat Sumut tidak sejahtera.



"Bapak Bupati dan Walikota. Marilah kita bergandengan tangan, bersinergi dan berkolaborasi sama-sama membangun perekonomian Sumut yang lebih baik," ujarnya.

Edy Rahmayadi berharap Rakor Pemda se-Sumut itu dapat memberikan hasil yang bermanfaat dan berharap hasil rakor dapat dijadikan satu landasan untuk menjadi panduan untuk dilaksanakan dalam membangun ekonomi yang lebih baik ke depan.

"Rakor ini untuk mempercepat, mengevaluasi apa yang sudah kita cita-citakan sesuai dengan kemampuan kita. Kita perbaiki kenapa inflasi tinggi, rupanya karena cabai. Kan bohong kalau karena cabai inflasi kita jadi naik. Berarti ada yang salah di situ. Nah, kehadiran pemerintah itulah untuk memperbaiki yang salah itu," tuturnya.

Terang dia, tanaman cabai tumbuh subur namun Ia mempertanyakan kemana larinya komoditas tersebut. "Ini karena tidak ada yang mengawal para petani kita. Inilah kita ketok para bupati dan wali kota untuk bersama-sama gubernurnya, sama-sama hadir di tengah masyarakat," sebutnya.

Sementara itu, Kepala BI Kantor Perwakilan Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan Rakor ini merupakan salah satu bentuk koordinasi antara BI bersama DJPb, BPS, OJK, untuk menghasilkan suatu rekomendasi terhadap pembangunan perekonomian di Sumut ke depan.

"Kita berharap rapat koordinasi ini bisa menelorkan suatu rekomendasi terhadap pembangunan perekonomian di Sumut ke depan seperti apa, terutama kita akan sampaikan hambatan-hambatan apa dan upaya-upaya apa yang harus kita lakukan, untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi," terangnya.

Menjawab pertanyaan, terkait inflasi yang tinggi karena cabai merah, padahal cabai merah banyak di Sumut, Wiwiek mengatakan, sebenarnya hal ini terkait dengan masalah pemasarannya. Meskipun cabai merah banyak di Sumut tetapi tidak semuanya dipasarkan di Sumut, tetapi dipasarkan ke provinsi lain, sehingga di Sumut menjadi kekurangan.

"Setelah kita lihat ternyata hampir setengah atau 50% itu produksi cabai merah kita, didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan di provinsi lain, seperti Riau, Padang, Jambi dan Aceh, sehingga kebutuhan cabai merah di Sumut yang tinggi menjadi kekurangan," pungkasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak