alexametrics

Smelter Freeport Capai 3,2% di Gresik, Pemerintah Terus Pantau

loading...
Smelter Freeport Capai 3,2% di Gresik, Pemerintah Terus Pantau
Pemerintah terus memantau pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur yang tercatat telah mencapai 3,2%. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah terus memantau pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. Terhitung sampai akhir Juli 2019 progres pembangunan smelter Freeport telah mencapai 3,2% dengan investasi yang telah dikelurkan mencapai USD151,7 juta.

“Tahapnya sudah sampai pematangan lahan. Biaya yang telah dikeluarkan mencapai USD151,7 juta,” ujar Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Yunus Saefulhak, di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Menurut dia, evalusi terkait progres pembangunan smelter dilakukan setiap enam bulan‎. Apabila memenuhi target maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan surat persetujuan ekspor (SPE). Sementara berdasarkan evaluasi pembangunan smelter Freeport telah melebihi target yang ditetapkan.



Adapun targetnya sampai Juli 2019 progresnya mencapai 2,76% tapi Freeport berhasil melebihi target yang ditetapkan yakni 3,2%. “Dengan begitu ekspor konsentrat diperpanjang selama satu tahun karena kemajuan fisik yg dicapai ini lebih tinggi,” kata dia.

Sebagai informasi, smelter Freeport dibangun di atas lahan seluas 100 hektar (ha) dengan biaya USD3 miliar. Berdasarkan perencanaan smelter Freeport di Gresik, Jatim dijadwalkan rampung pada 2023 dengan kapasitas konsentrat mencapai 2 juta ton.

Di sisi lain, smelter yang dibangun PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat mencapai 18,65%. Evaluasi pembangunan smelter merujuk pada rencana kerja per enam bulan yang diajukan perusahaan melebihi target sebesar 17,34%.

Sambung dia menjelaskan, bahwa tahapan pembangunan yang sudah dilakukan antara lain studi kelayakan, analisis dampak lingkungan (amdal), akuisisi lahan, serta tahapan desain rinci (Front End Engineering Design/FEED). Adapaun biaya investasi sampai Juli 2019 mencapai kurang lebih USD243 juta. “Ini progres sampai dengan Juli kemarin," ujarnya.

Berdasarkan progres tersebut maka Kementerian ESDM telah memberikan rekomendasi izin ekspor konsentrat. Untuk diketahui, smelter Amman memiliki kapasitas 1,3 juta ton. Pembangunan smelter itu dimulai sejak April 2017 lalu dan ditargetkan rampung pada 2022.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak