alexametrics

Pembangkit Listrik Berbasis Energi Terbarukan Harus Dibangun dengan Masif

loading...
Pembangkit Listrik Berbasis Energi Terbarukan Harus Dibangun dengan Masif
Dalam data BP Stastical Review 2019, Indonesia sudah seharusnya lebih masif mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Dalam data BP Stastical Review 2019, Indonesia sudah seharusnya lebih masif mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Pasalnya bauran energi pembangkit listrik sejak 1998-2018 masih di dominasi energi primer yakni, batu bara.

British Petroleum (BP) mencatat, penggunaan batu bara meningkat sebesar 62 MTOE tahun lalu, atau tumbuh 7,7% di atas rata-rata pertumbuhan selama 2007-2017 dengan angka 4,7%. Peningkatan pertumbuhan penggunaan batu bara terjadi lantaran adanya peningkatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menyumbang 66% dari total peningkatan output di 2018.

Sementara pembangkit listrik dari energi terbarukan masih lambat misalnya, dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Padahal sumber energi tersebut sangat berlimpah di Indonesia. BP statistical review 2019 menyebutkan kontribusi energy terbarukan hanya 5,5% dari total pembangkit listrik yang ada di Indonesia pada 2018. Naik tipis dibandingkan tahun 2017 sebesar 5,3%.



Group Chief Economist BP Spencer Dale mengatakan, kondisi tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan India. Sebagai sesama negara berkembang India serius mengembangkan energi terbarukan. “Berbagai insentif diberikan untuk meningkatkan pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan. Bahkan komponen harga listrik berbasis tenaga surya sudah turun dan bersaing dengan batu bara. Itu belum terjadi di Indonesia,” ujar dia.

Sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menekan terus mendorong PLN untuk meningkatkan bauran energi pembangkit listrik dengan energi terbarukan. Alasannya, selain meningkatkan penggunaan energi bersih dan menekan konsumsi minyak dan batu bara. “Saya sudah sampaikan kepada PLN untuk lebih terbuka, supaya lebih menerima pembangunan pembangkit listrik itu dari renewable,” ungkap Jonan.

Sambung Menteri ESDM mengatakan, PLN bebas membangun pembangkit listrik sendiri atau dengan Independent Power Producer (IPP) alias swasta. Jonan yakin dalam 5-10 tahun biaya pembangkit listrik berbasis energi terbarukan baik itu dari biomassa, tenaga surya, atau tenaga angin dapat lebih kompetitif dibandingkan energi fosil.

Selain itu, Jonan meminta PLN untuk mengubah target dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dari 4% penggunaan minyak diesel dalam 5 tahun menjadi 2%. “Saya sudah minta ke PLN untuk RUPTL ke depan itu minyak jangan 4% tapi jadi 2%. Caranya bikin hybrid misalnya PLTS dicampur mesin diesel daripada impor BBM,” kata dia.

Dia menandaskan, penggunaan energi bersih dengan harga terjangkau harus diperjuangkan yakni dengan cara menggunakan teknologi yang kompetitif. Selain itu dibarengi dengan insentif supaya pengembangan energi bersih mengalami peningkatan secara signifikan. “Kita negara khatulistiwa tapi tidak banyak PLTS. Solusinya bukan subsidi tapi menggunakan teknologi yang kompetitif,” ujar Menteri Jonan.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak