alexametrics

Merek Perusahaan Lama Masih Kuat Kuasai Pasar Dunia

loading...
Merek Perusahaan Lama Masih Kuat Kuasai Pasar Dunia
Merek Perusahaan Lama Masih Kuat Kuasai Pasar Dunia. (Istimewa).
A+ A-
NEW YORK - Merek-merek lama penguasa pasar dunia ternyata masih cukup mapan bertahan di tengah masyarakat. Kendati hadir sejumlah brand baru di pasaran, namun para pemain lama di berbagai industri tetap menjadi pilihan konsumen.

Setidaknya fakta ini terbukti berdasarkan versi Interbrand yang mengukuhkan CocaCola, Samsung, Toyota, Mercedes Benz, McDonald dan Disney masuk ke dalam sepuluh besar brand paling kuat dan bernilai di dunia. Merek-merek itu bada di urutan 5-10.

Sayangnya, para merek legendaris itu masih kalah tenar dibanding brand-brand perusahan teknlogi seperti Apple yang berada di urutan ke-1, Google (2), Amazon (3) dan Microsoft (4).



Popularitas dan nilai brand perusahaan lama dalam laporan brand Interbrand, sebuah perusahaan konsulan brand yang dimiliki Omicom, menunjukkan bahwa mereka memiliki performa baik di segala lini. Apalagi, Interbrand melakukan penilaian brand berdasarkan performa keuangan, produk dan pelayanan. Selain itu, faktor keputusan masyarakat untuk membeli produk tersebut, kekuatan daya saing brand dan kemampuan untuk menciptakan loyalitas.

“Label yang berkembang dan kuat selalu mengutamakan responsif dan relevan,” ujar pernyataan Interbrand.

“Selalu bisa memprediksi perubahan yang akan terjadi dan tetap konsisten dan relevan di era di mana kategori tertentu akan terdisrupsi dan menjadi warisan brand tidak akan mudah dilawan,” ungkap mereka.

Coca Cola merupakan label yang kuat sejak pertama didirikan dan masih bertahan hingga kini. Coca Cola merupakan perusahaan minuman terbesar di dunia yang beroperasi di lebih dari 200 negara. Meskipun performa Coca Cola mengalami penurunan 4%, tetapi nilai brand tersebut mencapai USD63,36 miliar. Kelebihan brand itu adalah komitmen, autentisitas, dan kehadiran di berbagai negara.

"Coca Cola mampu beradaptasi untuk merespons dunia modern," kata Julian Dailly, Direktur Strategi di Morar, lembaga konsultan brand, dilansir The Guardian. Di tengah banyak negara berusaha memerangi obesitas dan menerapkan pajak gula, Coca Cola mampu memperbanyak rasa konsumen yang beragam, melakukan evolusi dan menciptakan banyak produk lainnya. "Padahal, Coca Cola lahir di era di mana belum banyak pilihan,"katanya.

Selanjutnya, Disney sebagai brand yang telah lama memiliki sisi positif dalam hal antisipasi terhadap konsumen. “The Disney+ janji menjadi kekuatan utama,” ungkap Binns.

Disney mengalami kenaikan performa brand mencapai 11% dengan nilai USD44,35 miliar. Mereka memiliki berbagai anak perusahaan mulai dari jaringan media, studio hiburan, taman hiburan, hingga berbagai produk berbasis konsumen.

Dalam daftar 10 besar, salah satu merek perwakilan dari Asia adalah Samsung, perusahaan teknologi yang memang sejak lama berdiri. Nilai brand Samsung berada pada posisi USD61,1 miliar atau meningkat 2% dibandingkan tahun lalu.

Samsung mengklaim nilai brand yang terus menguat karena mereka terus mengeluarkan produk inovatif baik televisi hingga pendingin ruangan. Mereka juga tetap memimpin pada sektor yang terus tumbuh yakni 5G, kecerdasan buatan, dan Internet of Things.

"Kita sangat senang dengan upaya konstan kita memberikan inovasi bermakna bagi pelanggan sehingga bisa hidup lebih baik," kata YH Lee, CMO Samsung Electronics. "Untuk emmperkuat brand kita, kita terus mendengar dan belajar dari pelanggan kita untuk memimpin perubahan di masyarakat melalui inovasi," terangnya dilansir SamungMobile.com.

Facebook Terdepak
Daftar 10 besar brand versi Interbrand untuk 2019 memang didominasi perusahaan teknologi. Namun, ada satu perusahaan yang hilang dan tidak masuk 10 besar yakni Facebook.

“Hengkangnya Facebook berkaitan langsung dengan masalah privasi dan keamanan data yang mempengaruhi pilihan konsumen,”kata CEO Interbrand Daniel Binss, dilansir CNBC.

Facebook pertama kali masuk dalam laporan Best Global Brands pada 2012 pada peringkat ke #69. Perusahaan media sosial itu mencapai puncaknya pada 2017 pada peringkat ke #8. Tahun ini, Facebook duduk pada peringkat ke #14.

“Facebook mengalami tahun yang berat kali ini,” ujar Binns. “Sesuatu seperti yang telah dilakukan Apple sangat hebat dalam mengatasi masalah privasi dan keamanan, juga dilakukan Microsoft,” katanya.

Namun, Facebook tidak mengatasi permasalahan privasi dan keamanan seperti yang dilakukan Apple dan Microsoft.

Facebook terus dihantam berbagai praktek pelanggaran privasi dan pencurian data personal konsumen. Selain itu, perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg juga menjadi subjek dalam penyelidikan anti-kepercayaan. Padahal, perusahaan teknologi lainnya seperti Google, Amazon, dan Apple juga mengalami penyelidikan hal itu. Namun, reputasi Facebook terhadap konsumen mengenai permasalahan tersebut lebih buruk dibandingkan perusahaan teknologi lainnya.

Apple, Google, Amazon dan Microsoft masih menjadi brand yang kuat. Meskipun Google tetap mengalami isu privasi dan pencurian data, Binns mengungkapkan produk Google masih dilihat konsumen memiliki nilai yang tinggi.

“Ini pada dasarnya adalah masalah kompromi...antara kebermanfaatan dan penanganan data konsumen,” katanya. Dia menjelaskan, asas kebermanfaatan menjadi pemenangnya.

Sementara, banyak perusahaan teknologi yang dulunya merupakan pelopor justru tergeser. Binns mencontohkan Blackberry dan Nokia. “Kini mereka tertinggal dibelakang para competitor,” katanya.

Dia mengungkapkan, branding dan brand telah mengalami perubahan dramatis dalam 20 tahun terakhir. “Kemampuan untuk relevan dan menciptakan sesuatu yang berguna menjadi kebenaran yang harus dipegang,” jelasnya. (Andika H Mustaqim)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak