alexametrics

Salah Pilih Menteri Ekonomi Bisa Buat Rupiah Tertekan

loading...
Salah Pilih Menteri Ekonomi Bisa Buat Rupiah Tertekan
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudisthira, mengingatkan agar Presiden Joko Widodo memilih menteri ekonomi sesuai dengan perkembangan ekonomi saat ini.

Menurut Bhima, jika menteri ekonomi yang terpilih tidak tepat malah akan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal ini tercermin dari reaksi pasar. Kata Bhima, jelang pelantikan, dana asing masih mencatatkan nett sell atau jual bersih di pasar saham sebesar Rp1,35 triliun.



Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tipis 0,04% sepekan terakhir menjadi Rp14.145 per USD, pada penutupan Jumat pekan kemarin. Sementara, IHSG meskipun menguat 1% sepekan sebelum pelantikan, hal ini lebih didorong optimisme perundingan dagang AS-China.

"Karena itu, pos-pos strategis menteri yang menentukan kebijakan teknis dianggap lebih penting bagi keputusan investasi dibanding pelantikan hari ini. Jadi jangan salah memilih menteri ekonomi agar rupiah tidak tertekan," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews, Minggu (20/10/2019).

Ia menambahkan memang menjadi menteri ekonomi tidak mudah karena banyak pekerjaan yang harus dibenahi. Salah satunya membereskan implementasi 16 paket kebijakan ekonomi yang belum berjalan efektif.

"Tugas utamanya membereskan implementasi 16 paket kebijakan yang belum berjalan efektif. Jadi tidak perlu buat kebijakan baru, cukup pertajam paket yang sudah pernah dikeluarkan menko sebelumnya," jelasnya

Sambung Bhima, menteri ekonomi juga harus memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi situasi ekonomi global yang mana bisa membuat rupiah tertekan.

"Jadi masih wait and see apa yang bakal dipilih Jokowi untuk menteri ekonomi kedepan," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak