alexametrics

Menakar Peluang Penurunan Lanjutan Suku Bunga Acuan BI

loading...
Menakar Peluang Penurunan Lanjutan Suku Bunga Acuan BI
Bank Indonesia (BI) diyakini masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren suku bunga rendah dengan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan alias BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap di 5,25%. Meski begitu tidak menutup peluang ada penurunan lanjutan sebesar 25 bps ke 5% sehingga probabilitas BI rate bertahan di level 5,25% sekarang ini atau turun 25 bps menjadi 5% berimbang.

"Makanya view kalangan ekonom terbelah antara yang memprediksi tetap dengan yang turun," kata SVP Chief Economist BNI Ryan Kiryanto di Jakarta.

Lebih lanjut Ia menerangkan, yang perlu jadi perhatian yakni semua upaya BI sudah dilakukan dengan baik dan benar seperti kebijakan moneter yang longgar. Namun menurutnya belum berdampak ke permintaan kredit yang naik dan ketatnya likuiditas bank yang tidak melonggar.



Hal tersebut ungkapnya karena kebijakan fiskal yang counter cyclical yang sifatnya menjadi stimulus ekspansioner untuk perekonomian dan perbankan belum secara optimal dilakukan oleh pemerintah (dalam hal ini kementerian keuangan). "Ini sayang sekali karena waktu tinggal dua bulan lagi sebelum 2019 berakhir," ujar dia.

Intinya, belanja barang dan belanja modal pemerintah (K/L) harus segera dilakukan supaya PDB di Kuartal IV bisa tumbuh di atas 5%. Secara teoritis, juga disarankan oleh Bank Dunia dan OECD, dimana suatu negara yang perekonomiannya melemah, maka kebijakan moneter dan fiskalnya harus selaras dalam wujud counter cyclical policies yang sifatnya relaksasi.

Hal tersebut agar upaya perekonomian negara tersebut dapat rebound atau recover. "Jangan kebijakannya justru terkesan pro cyclical. Ini tidak tepat," cetus dia.

Sementara Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menuturkan, BI akan melanjutkan penurunan suku bunga sebesar 25 bps. Akan tetapi, BI juga bisa kembali menurunkan suku bunga dengan pertimbangan kondisi global yang dovish dan meredanya perang dagang AS dan China. "Dari sisi domestik juga inflasi dan nilai tukar Indonesia relatif terjaga," ungkap dia.

Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan Muhammad Yusron mengungkapkan, ruang penurunan BI7DRR Rate dan lanjutan pelonggaran kebijakan moneter serta makroprudensial yang akomodatif akan cukup terbuka. Hal tersebut untuk mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi ditengah laju inflasi yang rendah.

Di sisi lain risiko kinerja neraca transaksi berjalan, volatilitas di pasar keuangan serta respon perbankan atas penurunan BI7DRR Rate akan menjadi faktor pertimbangan tambahan BI sebelum mengambil langkah lanjutan. "Sementara itu transaksi pasar uang antar bank untuk semua tenor berpeluang turun secara gradual merespons penurunan yang ditempuh BI dan kondisi likuiditas antar bank yang relatif stabil," pungkas dia.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak