alexametrics

Naik 11% Investasi Hulu Migas Kuartal III/2019 Capai USD8,4 Miliar

loading...
Naik 11% Investasi Hulu Migas Kuartal III/2019 Capai USD8,4 Miliar
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam konferensi pers capaian kinerja hulu migas kuartal III/2019 di kantor SKK Migas, Kamis (23/10/2019). Foto/Michelle Natalia
A+ A-
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan, investasi hulu migas hingga bulan September 2019 sebesar USD8,4 miliar (sekitar Rp118 triliun), meningkat 11% dibandingkan investasi di kuartal III/2018 sebesar USD7,6 miliar.

SKK Migas meyakini investasi hulu migas ke depan akan terus meningkat mengingat hingga tahun 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi mencapai USD43,3 miliar dan proyeksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar USD20 miliar.

Total produksi dari 42 proyek tersebut diperkirakan mencapai 1,1 juta barel setara minyak per hari (boepd) yang mencakup produksi minyak sebesar 92.100 bopd dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari. Empat di antaranya merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik yang semakin meningkat.



SKK Migas juga menyiapkan empat strategi jangka panjang untuk mengejar produksi minyak 1 juta bopd di tahun 2030. Angka tersebut melebihi angka yang dicanangkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun 2017 sebesar lebih dari 200.000 bopd.

"Strategi pertama adalah mengedepankan strategi eksplorasi yang masif dan intensif. Strategi kedua mendorong dan mengkampanyekan penerapan enhanced oil recovery (EOR) di lapangan mature. Selain eksplorasi dan EOR, strategi lainnya dengan mengakselerasi monetisasi proyek-proyek utama, sehingga mempercepat potensi sumberdaya menjadi lifting," ujar Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto di Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Dwi menambahkan bahwa strategi terakhir dalam menahan penurunan produksi alami serta mendorong peningkatan produksi adalah dengan menjaga keandalan fasilitas produksi, maksimalisasi kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur, reaktivasi sumur tidak berproduksi (idle), dan inovasi teknologi.

Pada kesempatan itu, Dwi menyampaikan bahwa realisasi lifting minyak dan gas (migas) hingga September 2019 mencapai 89% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta boepd. Total lifting migas sebesar 1,8 juta boepd dengan rincian lifting minyak 745.000 bopd dan lifting gas 1,05 juta kaki kubik per hari.

Sebesar 84% total lifting hulu migas merupakan kontribusi dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama dan 16% didukung 80 KKKS lainnya. Lifting yang belum mencapai target juga berdampak pada realisasi penerimaan negara yang hingga September 2019 mencapai USD10,99 miliar (setara Rp154,4 triliun).

"Hal ini (penerimaan negara) juga dipengaruhi ICP (Indonesia Crude Price) yang sebesar USD60-an per barel. Ini cukup jauh di bawah target asumsi makro APBN yaitu USD70 per barel," jelasnya.

Peningkatan kapasitas nasional yang dilakukan hulu migas, lanjut dia, bukan hanya dengan mendukung kebutuhan energi, tetapi juga dengan melakukan efisiensi biaya dan efek berganda (multiplier effect) yang mendukung perekonomian daerah dan nasional. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri hulu migas hingga awal Oktober 2019 telah mencapai angka 55% dari target 50% di tahun 2019.

"SKK Migas terus mengedepankan efisiensi di industri hulu migas, baik dengan kolaborasi kerja sama strategis dengan Pertamina dan Garuda Indonesia, maupun dengan pecepatan proses tender," ucap Dwi.

Nilai efisiensi dari nota kesepahaman tentang penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan PT Pertamina (Persero) tercatat mencapai Rp294 miliar, sedangkan dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencapai Rp33 miliar.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak