alexametrics

Penurunan Suku Bunga Diyakini Bakal Dorong Investasi

loading...
Penurunan Suku Bunga Diyakini Bakal Dorong Investasi
Penurunan bunga acuan diyakini akan memberikan stimulus bagi perekonomian, khususnya mendorong investasi. Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point (bps) sudah sesuai perkiraan pasar. Penurunan bunga acuan ini diyakini akan memberikan stimulus bagi perekonomian Indonesia, khususnya untuk mendorong investasi.

"Sesuai perkiraan, Bank Indonesia (BI) memutuskan kembali utk memangkas suku bunga acuannya 25 bps menjadi 5,0% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Kebijakan moneter yang akomodatif ditujukan untuk memberikan stimulus bagi perekonomian, secara khusus mendorong belanja dan konsumsi rumah tangga serta mendorong investasi seiring dengan penurunan cost of borrowing," ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Dia menilai BI cenderung cukup agresif menurunkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal ini membuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan baru akan mempengaruhi perekonomian riil paling pada kuartal II atau III tahun 2020.



"Namun demikian, bauran kebijakan BI yakni kebijakan moneter dan makroprudensial perlu juga dikombinasikan dengan kebijakan fiskal yang akomodatif yang mendorong peningkatan pendapatan riil yang pada akhirnya dapat mendorong belanja konsumen," tambahnya.

Sebagai informasi, RDG BI pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5% dari sebelumnya 5,25%. Selain itu BI juga menurunkan suku bunga deposit facility di angka 4,25% dan lending facility di 5,75%.

Keputusan bank sentral menurunkan suku bunga sejalan dengan inflasi yang rendah. Kebijakan itu disebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal.

Kebijakan itu juga sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak pelambatan ekonomi global.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak