alexametrics

Ekspor Industri Batik Capai USD20,54 Juta, Menperin Agus: Didominasi IKM

loading...
Ekspor Industri Batik Capai USD20,54 Juta, Menperin Agus: Didominasi IKM
Menperin Agus Gumiwang menerangkan ekspor batik dan produk batik selama periode Januari sampai dengan Agustus 2019 mencapai USD20,54 juta dan didominasi IKM. Foto/Rina Anggraeni
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) nasional tenun dan batik untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi agar lebih berdaya saing di pasar domestik dan internasional. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan, industri batik memiliki peran penting bagi perekonomian nasional.

Dia pun menyebutkan nilai ekspor batik dan produk batik selama periode Januari sampai dengan Agustus 2019 mencapai USD20,54 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. "Industri batik menjadi penggerak perekonomian regional dan nasional, penyedia lapangan kerja, serta penyumbang devisa negara. Industri batik didominasi oleh Industri Kecil dan Menengah yang tersebar di 101 sentra," ujar Agus di Gedung Kemenperib b di Jakarta, Senin (28/10/2019).

Sambung dia menerangkan, industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di atas rata-rata dunia. Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia. Adapun perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai USS479 miliar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi.



"Batik menjadi identitas bangsa yang semakin populer dan mendunia. Batik saat ini bertransformasi menjadi berbagai bentuk fesyen, kerajinan dan home decoration yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat baik di dalam maupun luar negeri," jelasnya.

Kemenperin ungkapnya, terus berupaya mengembangkan industri batik nasional. Program peningkatan kompetensi SDM, kualitas produk, standardisasi, restrukturisasi mesin peralatan, fasilitasi mesin/ peralatan serta promosi dan pameran diberikan kepada para perajin dan pelaku usaha batik untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas produksinya.

"Sementara itu untuk meningkatkan akses pasar Kementerian Perindustrian juga memiliki program e-Smart IKM. Kami juga mendorong agar industri batik memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan seperti KUR dan lembaga pembiayaan perbankan / non perbankan lainnya untuk memperkuat struktur modalnya," jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak