alexametrics

Maybank Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun per September 2019

loading...
Maybank Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun per September 2019
Maybank bukukan laba bersih Rp1,1 triliun per September 2019. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatatkan peningkatan pendapatan operasional sebelum provisi sebesar 2,0% menjadi Rp3,1 triliun untuk periode yang berakhir 30 September 2019.

Pertumbuhan pendapatan operasional ini terutama didukung peningkatan pendapatan non bunga (fee based income), pengelolaan biaya secara berkelanjutan dan kenaikan pendapatan bunga bersih dalam periode tersebut.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali tercatat sebesar Rp1,1 triliun atau turun dibandingkan Rp1,5 triliun per 30 September 2018.



Penurunan ini dikarenakan adanya peningkatan provisi sehubungan Bank menempuh langkah konservatif dalam melakukan pencadangan kredit untuk beberapa portofolio pada segmen komersial dan korporat yang terdampak oleh melemahnya kinerja keuangan perusahaan.

"Bank mencatat pertumbuhan pendapatan non bunga sebesar 23,2% menjadi Rp1,9 triliun pada September 2019 dibandingkan Rp1,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu, didukung fee Global Market, pengembalian pajak, administrasi kredit, pemulihan kredit, dan bancassurance serta jasa layanan lain yang disediakan Bank," kataTaswin di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Pendapatan bunga bersih meningkat 1,4% menjadi Rp6,1 triliun dari Rp6,0 triliun sementara Marjin Bunga Bersih turun 27 basis point secara tahunan menjadi 5,0% pada September 2019 dari 5,2% pada September 2018.

Adapun marjin Bunga Bersih pada September 2019 lebih tinggi 14 basis point dibandingkan 4,8% pada Juni 2019 menyusul upaya berkelanjutan dalam meningkatkan imbal hasil kredit dan mengurangi biaya dana.

Taswin melanjutkan, bank juga berhasil mengurangi kelebihan likuiditas dan biaya dana yang tinggi pada semester satu yang merupakan langkah aktif untuk memastikan likuiditas yang cukup dalam memitigasi semua risiko yang tidak terduga selama dan sesudah pemilu.

"Perseroan akan terus menjaga kedisiplinan dalam penentuan harga kredit dan pengelolaan dana secara aktif untuk dapat memitigasi tekanan pada marjin dengan lebih baik," ungkapnya.

Maybank juga terus mempertahankan posisi likuiditas yang kuat dengan simpanan nasabah yang meningkat 4,3% menjadi Rp115,6 triliun pada September 2019 dari Rp110,8 triliun pada September 2018.

Sedangkan Rasio Loan to Deposit (LDR-Bank saja) berada pada level yang sehat sebesar 96,3% sementara Rasio Liquidity Coverage (LCR-Bank saja) berada pada 169,7% per September 2019, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.

Sementara perbankan Global membukukan pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 13,7% menjadi Rp35,4 triliun dari Rp31,1 triliun didukung terutama oleh kredit Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi papan atas untuk pembiayaan infrastruktur dan investasi.

Namun, sanbung Taswin, kredit Community Financial Services (CFS)-Non Ritel, yang merupakan Usaha Kecil & Menengah (UKM) turun 7,0% menjadi Rp51,9 triliun, dan kredit CFS Ritel turun 4% menjadi Rp42,5 tirliun per 30 September 2019.

"Dengan demikian, total kredit turun 1,1% menjadi Rp129,8 triliun pada 30 September 2019 dari Rp131,2 triliun pada 30 September 2018," katanya.

Meski demikian, biaya overhead tetap terkendali dengan kenaikan sebesar 8,4% menjadi Rp4,9 triliun pada September 2019 dari Rp4,5 triliun pada September 2018 sebagai hasil inisiatif pengelolaan biaya yang baik di seluruh lini bisnis dan support unit Bank. Biaya overhead ini termasuk insentif yang dibayarkan untuk simpanan mudharabah yang tumbuh 107,8%.

Di luar biaya insentif tersebut, biaya operasional relatif sama hanya meningkat 0,7% hingga September 2019. Disisi lain, perseroan meningkatkan provisi kerugian kredit sebesar 59,4% menjadi Rp1,6 triliun per September 2019.

Menurut dia, provisi ini terutama disebabkan oleh beberapa nasabah komersial dan korporat yang terdampak oleh melemahnya kinerja keuangan perusahaan. "Kami terus menempuh langkah proaktif untuk mendukung nasabah dalam menghadapi tantangan dan menjaga postur risikonya untuk menjaga kualitas aset," beber Taswin.

Langkah ini telah menghasilkan peningkatan kualitas aset seperti tercermin pada penurunan tingkat NPL dari 2,7% (gross) dan 1,5% (net) pada September 2018 menjadi 2,6% (gross) dan 1,5% (net) pada September 2019.

Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 20,1% pada September 2019 dibandingkan dengan 18,8% periode yang sama tahun lalu dan total modal Rp26,8 triliun pada September 2019 dibandingkan Rp25,3 triliun pada September 2018.

Perbankan Syariah juga mencatat pertumbuhan sebesar 10,6% dalam total aset mencapai Rp33,4 triliun pada September 2019 dari Rp30,2 triliun pada September 2018, memberikan kontribusi 20,4% terhadap total aset Bank.

Sedangkan total pembiayaan tumbuh 3,0% menjadi Rp24,5 triliun sementara tingkat Non Performing Financing (NPF) membaik signifikan menjadi 1,3% (gross) dan 1,1% (net) pada September 2019 dibandingkan 2,9% (gross) dan 1,9% (net) pada September 2018.

Total simpanan Perbankan Syariah melonjak 45,9% menjadi Rp26,4 triliun pada September 2019. Hal Ini didorong oleh usaha yang terfokus untuk meningkatkan basis nasabah dan peluncuran produk-produk inovatif.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak