alexametrics

Direct Flight Internasional ke Bandung Masih Jadi Favorit

loading...
Direct Flight Internasional ke Bandung Masih Jadi Favorit
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Doddy Herlando. Foto/SINDOnews/Arif Budianto
A+ A-
BANDUNG - Direct flight atau penerbangan langsung internasional ke Bandara Husein Sastranegara Bandung dinilai masih menjadi favorit wisatawan mancanegara (wisman). Tanpa ada direct flight, wisman masuk ke Bandung dikhawatirkan bakal berkurang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Doddy Herlando, mengakui bila dilihat dari periode Agustus ke September 2019, memang terjadi penurunan jumlah wisman sekitar 2,7%. Turun dari 14.034 orang menjadi 12.917 orang.

"Tetapi secara kumulatif selama periode Januari hingga September 2019, kami mencatat kenaikan 4,36% atau menjadi 115.000 orang. Artinya, penerbangan langsung ke Bandung masih menjadi favorit wisatawan datang ke Jawa Barat," kata Doddy di kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, Jumat (1/11/2019).



Menurut dia, wisman asal Singapura dan Malaysia masih mendominasi penerbangan langsung ke Bandung pada periode September 2019. Masing-masing 18,81% atau 2.450 WNA Singapura dan 62,07% atau 8.087 WNA Malaysia. Sementara sisanya dari China, India, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Thailand.

Menurut Doddy, penutupan Bandara Husein Sastranegara dari penerbangan komersial mestinya mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama akses Cisumdawu harus diselesaikan, sehingga jarak tempuh dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) bisa dikalkulasi.

"Biasanya mereka juga pertimbangkan efisiensi waktu. Biasanya jadwal berkunjung wisman sangat padat. Nah kalau waktu mereka habis untuk menempuh jarak dari satu tempat ke lainnya, jadi mereka akan berpikir dua kali. Di Bali aja mereka ambil yang dekat-dekat," jelas dia.

Faktor lainnya, bagaimana membuat daya tarik wisata di kawasan pantura. Sehingga wisman dapat memaksimalkan waktu sebaik mungkin untuk berkunjung di kawasan sekitar Bandara. Sehingga mesti dipikirkan objek daya tarik, kalender event, dan insentif lainnya.

Ketiga, pertimbangkan dinamika bisnis, karena biasanya tak sedikit wisman yang melakukan kunjungan bisnis, kemudian dilanjutkan berwisata. "Nah apakah iklim bisnis di sana sudah menarik. Jadi harus ada sinergitas. Juga bagaimana membuat paket wisata yang menarik," imbuh dia.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak