alexametrics

Pentingnya Keamanan Informasi di Dunia Digital Banking

loading...
Pentingnya Keamanan Informasi di Dunia Digital Banking
Bank Sinarmas melihat pentingnya keamanan informasi sebagai hal yang utama dan krusial khususnya dalam dunia Digital Banking dengan mendukung WRECK-IT 2019. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Bank Sinarmas melihat pentingnya keamanan informasi sebagai hal yang utama dan krusial khususnya dalam dunia Digital Banking. Hal ini selaras dengan dukungan Bank Sinarmas dalam kegiatan WRECK-IT 2019 yaitu ajang kompetisi dan seminar dalam bidang keamanan informasi yang ditujukan untuk masyarakat umum.

Kegiatan ini menjadi perhatian penggiat keamanan informasi dengan kompetisi Capture The Flag yang telah dilaksanakan secara online pada tanggal 28 September 2019 lalu. Sembilan tim terbaik dengan poin tertinggi pada kompetisi CTF akan melanjutkan ke babak final bersama satu tim dari Bank Sinarmas. Ketika final sepuluh tim bertanding dalam Cyber War Games. Setiap tim harus menunjukkan kemampuannya untuk melakukan attack defense pada sumber daya yang telah disediakan oleh panitia.

Keamanan Informasi yang disorot oleh Bank Sinarmas yaitu dalam hal pengamanan system yang dimiliki. Di dalam kompetisi WRECK-IT dapat mengasah kemampuan dalam bidang reverse engineering, cryptography, web application security, penetration testing, dan lain-lain. Dengan memiliki Sumber Daya Manusia yang kompeten, Bank Sinarmas mampu menghadapi segala serangan dan tantangan dalam dunia keamanan informasi.



“Dengan menggandeng ahli di bidang keamanan informasi, Bank Sinarmas telah menunjukkan keseriusan untuk mengembangkan wawasan di bidang keamanan informasi baik untuk lingkungan perusahaan maupun lingkungan masyarakat luas. Hal ini tentunya sejalan dengan misi Bank Sinarmas yakni meningkatkan kemampuan Teknologi Informasi dan Sumber Daya Manusia dalam rangka memberikan layanan terbaik melalui payment system yang lengkap,” ucap Hanafi selaku Direktur Bank Sinarmas.

Selain itu, dalam kegiatan WRECK-IT 2019 juga mengadakan seminar dengan Tema “Cybersecurity Workforce Past, Now, and Future” yang terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan tersebut bersamaan dengan kegiatan final Cyber War Games. Acara seminar dibawakan dengan konsep diskusi panel oleh tiga narasumber ahli yaitu Bapak Gildas Deograt Lumy, CISA, CISSP, Bapak Ir. Onno Widodo Purbo, M.Eng., Ph.D., dan Bapak Anton Setiyawan Direktur Proteksi Ekonomi Digital, Badan Siber dan Sandi Negara.

Peserta kegiatan seminar terdiri dari mahasiswa STSN dan tamu undangan. Total peserta seminar berjumlah 250 orang dari kalangan mahasiswa, dosen, pegawai, dan umum. Turut hadir pula petinggi dari Badan Siber dan Sandi Negara, Sekolah Tinggi Sandi Negara, dan juga Seclab sebagai pihak yang akan mendukung peningkatan wawasan masyarakat dalam bidang keamanan informasi.

Wreck Information Technology (WRECK-IT) yang digelar oleh Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) merupakan serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mahasiswa STSN dan masyarakat umum dalam rangka meningkatkan kapabilitas dan kemampuan di bidang keamanan siber. Di antaranya melalui perlombaan Capture The Flag (CTF), Cyber War Games (CTF), dan Seminar tentang Tren Keamanan Siber oleh para pakar keamanan siber.

Kegiatan WRECK-IT merupakan bentuk kerjasama antara STSN dengan Bank Sinarmas. Ketua STSN, Chrisyanto Noviantoro, S.H., M.H dalam sambutannya menyampaikan bahwa WRECK-IT merupakan upaya peningkatan kesadaran keamanan informasi bagi masyarakat, sehingga kejadian yang berdampak negatif pada kenyamanan dan keamanan berinteraksi di dunia maya dapat diminimalisir.

"Peningkatan serangan siber setiap tahunnya menyebabkan negara rentan menjadi korban. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga-tenaga yang handal di bidang keamanan siber. Idealnya, Indonesia memiliki 1,5 juta tenaga ahli keamanan siber untuk mengawal ranah siber secara nasional. Akan tetapi, sampai saat ini SDM di Indonesia masih sangat kurang. Lembaga pendidikan yang menyediakan jurusan keamanan siber juga masih terbatas di beberapa universitas," papar Chrisyanto.

WRECK-IT terdiri dari serangkaian kegiatan, yakni Capture The Flag (CTF). CTF merupakan kompetisi di bidang keamanan siber yang diikuti oleh 169 tim yang terdiri dari berbagai komunitas siber, mahasiswa, dan aktifis keamanan siber dari seluruh Indonesia. Tahap awal, CTF dilakukan secara online melalui pemecahan soal-soal tentang keamanan siber.

Selanjutnya, dipilih 10 tim terbaik untuk mengikuti babak final berupa Cyber War Games, yaitu kompetisi simulasi dalam melakukan serangan dan membobol sistem yang telah disediakan. Selain kegiatan CTF, peserta juga memperoleh edukasi dan literasi oleh berbagai pakar keamanan siber. Berbagai narasumber dan pakar di bidang keamanan siber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anton Setiyawan (Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN), pakar keamanan siber Gildas Deograt Lumy, dan Onno Widodo Purbo.

Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) merupakan perguruan tinggi kedinasan di bawah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menyelenggarakan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat berkualitas tinggi di bidang keamanan siber dan sandi negara. Melalui konferensi pers, Ketua STSN mengungkapkan kekhususan STSN sebagai sentra pendidikan keamanan siber dan sandi negara di Indonesia.

"STSN senantiasa berpartisipasi dalam mencetak generasi-generasi punggawa keamanan siber yang handal, tangguh, dan kompeten untuk mengisi sumber daya manusia yang ditempatkan di seluruh unit kerja di BSSN. Kegiatan WRECK-IT merupakan salah satu bentuk pengabdian STSN kepada masyarakat melalui edukasi, literasi, dan kampanye security awareness, serta budaya keamanan siber di era keterbukaan informasi," tegasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak