alexametrics

Momentum Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5% Harus Dijaga

loading...
Momentum Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5% Harus Dijaga
Momentum Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5% Harus Dijaga
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah harus mampu menjaga level pertumbuhan ekonomi di atas 5% untuk menjaga kepercayaan pasar. Di samping itu, harus ada terobosan strategi yang mampu mendorong investasi dan konsumsi hingga akhir tahun agar tidak kehilangan momentum.

Data pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 yang dirilis kemarin, direspons positif pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 1,36% menjadi 6.264,15. Demikian pula nilai tukar rupiah yang kemarin menyentuh level di bawah Rp14.000 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pada periode Juli-September 2019, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02%. Angka ini sedikit di atas perkiraan sejumlah ekonom yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan kuartal III/2019 maksimal 5%. Kendari demikian, angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,3%.



Pekerjaan rumah pemerintah semakin berat di sisa waktu dua bulan terakhir di 2019 karena pada dua kuartal sebelumnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional masing-masing hanya 5,07% dan 5,05%. Apalagi jika dibandingkan dengan kuartal III/2018 di mana pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,17%.

“Pemerintah harus mengambil ancang-ancang dengan rencana terobosan guna mendorong konsumsi dan juga investasi di 2020. Pelemahan ekonomi global tentu akan berdampak terhadap domestik, namun hal tersebut bisa dimitigasi dengan kebijakan-kebijakan yang tepat,” ujar Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 telah diprediksi sebelumnya meski masih lebih baik dari pada perkiraan para analis. Perlambatan ini terutama disebabkan menurunnya pertumbuhan konsumsi dan investasi. Sementara ekspor masih rendah walaupun tidak lagi negatif.

“Saya kira tetap menjadi peringatan buat pemerintah. Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 ini menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 5,3% hampir mustahil dicapai, bahkan sulit mencapai 5,1%," katanya.

Menurut Piter, penurunan harga komoditas terjadi lebih dari tiga tahun terakhir seharusnya sudah diantisipasi dengan kebijakan yang akomodatif agar tidak berdampak besar terhadap konsumsi dan investasi. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 tidak terlepas dari kondisi global yang berimbas pada ketidakpastian seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

“Pelambatan juga terlihat dari beberapa harga komoditas yang mengalami tekanan. Komoditas migas dan non migas turun baik secara bulanan maupun tahunan,” ujarnya. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya minyak mentah (ICP).

Jika di kuartal III/2018 harga ICP USD71,64, pada kuartal III/2019 hanya USD59,51 per barel. Demikian juga harga batu bara yang melemah sekitar 42,07%, minyak sawit turun 6,85%. Kendati demikian, Suhariyanto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2019 masih cukup baik dibandingkan negara Asia lainnya.

Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko memandang, kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal III/2019 tetap positif di tengah kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan. Dia pun memastikan bahwa koordinasi antara BI, Pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Onny melanjutkan, BI dan pemerintah juga terus melakukan bauran kebijakan yang ditempuh untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan. Langkah itu untuk mendukung perbaikan kinerja sektor eksternal, terutama ekspor.

Diketahui, pada kuartal III/2019 ekspor tumbuh positif menjadi 0,02% (yoy), lebih baik dibandingkan kinerja pada kuartal sebelumnya yang mengalami kontraksi 1,98% (yoy). Sementara itu, kinerja impor mengalami kontraksi 8,61% (yoy), lebih dalam dari kinerja pada kuartal sebelumnya yang kontraksi sebesar 6,78% (yoy).

Terkait penguatan ekspor, Ekonom Institute for Reform on Economics (Indef) Bhima Yudhistira menilai, masih ada peluang di tengah perang dagang antara dua ekonomi besar dunia yakni AS versus China. Hanya saja, tantangannya adalah Indonesia dihadapkan pada kurangnya informasi pasar (market intelijen), ketergantungan komoditas, dan adanya hambatan-hambatan birokrasi untuk ekspor.

Dia juga menyoroti perlambatan pertumbuhan di sektor manufaktur. Menurutnyta, kedua sektor itu harus segera diatasi dengan berbagai stimulus. "Motor utama investasi kuncinya di reformasi struktural birokrasi, perizinan dan kenaikan indeks daya saing," tambahnya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak