alexametrics

Temuan HFC: Kaum Milenial Butuh Rumah Tapak yang Terjangkau

loading...
Temuan HFC: Kaum Milenial Butuh Rumah Tapak yang Terjangkau
Temuan HFC: Kaum Milenial Butuh Rumah Tapak yang Terjangkau
A+ A-
JAKARTA - Populasi usia produktif di Indonesia diperkirakan bertambah 2 juta jiwa setiap tahunnya untuk 10 tahun ke depan. Seiring perkembangan itu, kebutuhan tempat tinggal juga akan turut meningkat.

Dari catatan Biro Pusat Statistic (BPS) Indonesia, jumlah kaum milenial mencakup 50% dari total populasi usia produktif. Dan bagi mereka, memiliki hunian bukan menjadi prioritas, karena filosofi hidup yang lebih menekankan life experience membuat generasi yang lahir pada 1980-2000 ini mengutamakan sosialisasi dan petualangan.

Padahal, diperkirakan hunian diperkirakan akan jadi masalah kota ini dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, ada jurang kesenjangan antara kemampuan dan harga pasar properti. Berdasarkan survei Real Estate Indonesia (REI), kaum milenial pada rentang usia 30 hingga 35 tahun saat ini rata-rata mendapatkan penghasilan Rp5-6 juta per bulan.



Hanya segelintir orang saja yang memiliki gaji Rp10 juta ke atas per bulan pada usia itu. Dari penghasilan itu, milenial membeli rumah bersubsidi sesuai kemampuan mereka di angka 130%. Sementara membeli rumah non subsidi ada di kisaran 60-70 persen saja.

Rendahnya kemampuan milenial membeli hunian komersil merupakan imbas dari penghasilan mereka. Dengan gaji Rp5-10 juta itu, kaum milenial tak berhak dapat subsidi perumahan. Otomatis mereka harus beralih keperumahan komersil. Karena itu, diperkirakan dalam 5 tahun ke depan, kaum milenial akan mengalami kesulitan memiliki hunian.

Housing Finance Center (HFC) pernah melakukan survei terhadap 270 responden berusia 21-35 tahun. Generasi milenial di usia itu rata-rata itu ingin memiliki rumah tapak dengan harga terjangkau, tenor KPR 10-15 tahun, serta cicilan sesuai kemampuan. Karena itu, diperlukan inovasi dari pengembang yang bisa memberikan solusi hunian terjangkau bagi generasi milenial, apalagi pasar milenial di Indonesia sangat besar.

Melihat peluang itu, pengembang properti PT Setiawan Dwi Tunggal pun membangun The Parc, apartemen modern dengan konsep milenial dan harga terjangkau. Apartemen yang melakukan ground breaking beberapa waktu lalu itu diperkirakan akan diserahterimakan pada kuartal II 2022 mendatang. Direktur SouthCity (Setiawan Dwi Tunggal), Peony Tang mengatakan, pihaknya memahami kebutuhan milenial akan komunitas dan kolaborasi.

Selain itu, dengan kenaikan harga hunian terutama di kota besar, milenial semakin sulit untuk memiliki hunian. “Itu sebabnya The Parc hadir dengan konsep milenial dan penawaran harga terjangkau. Bahkan, kami menyediakan berbagai kemudahan pembayaran bagi milenial, sehingga memiliki hunian bukan lagi mission impossible bagi mereka,” kata dia.

Peony menambahkan, apartment The Parc hadir dengan konsep yang mengakomodir kebutuhan kaum milenial. Sebagai hunian coliving pertama di Indonesia, The Parc menghadirkan fasilitas berkomunitas serta berkolaborasi bagi penghuninya dengan memperhatikan nilai estetika dan kenyamanan bagi penghuninya.

”Konsep coliving yang kami tawarkan berbeda dengan hunian lainnya. Kami memberi kesempatan bagi para penghuni untuk berkomunitas dan berkolaborasi, namun tetap mengutamakan kenyamanan. The Parc adalah hunian yang dirancang untuk mendukung kehidupan yang lebih baik. Ini adalah gagasan dari ide yang sudah ada, dirancang bagi kebutuhan generasi milenial yang cenderung menghargai keterbukaan, kolaborasi, jaringan sosial, dan bisnis,“ ujar Peony.

Associate Director SouthCity, Stevie Faverius Jaya, menambahkan, generasi milenial merupakan peluang pasar yang sangat besar bagi pengembang. Itu sebabnya, The Parc menyediakan kemudahan berbayar mulai dari Nabung DP hingga cicilan 50 ribu per hari.

“Hal terpenting yang ditawarkan kepada pelanggan adalah living experience dengan area luas dan asri, serta didukung kawasan superblock berfasilitas lengkap. Semua ini kami tawarkan dengan harga terjangkau dan cara bayar mudah bagi generasi milenial,” kata Stevie.

The Parc merupakan apartemen pertama di Kawasan Superblock SouthCity area yang dikembangkan PT Setiawan Dwi Tunggal. Kawasan pembangunan terpadu seluas 57 hektare (ha) ini terdiri dari kawasan baru perumahan landed house Fortunia Residences, residensial apartemen, area ritel, komersial, pusat perbelanjaan, perkantoran, perhotelan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Sejak dipasarkan pada Juni 2018, The Parc sudah terjual sekitar 70% dari total 391 unit di tower pertama, Summer Tower. “Kami targetkan penjualan hingga 100 persen tahun ini, dan selanjutnya kami akan memasarkan tower kedua,” pungkas Stevie.

SouthCity sebagai pengembang optimistis kehadiran proyek apartemen dengan investasi hingga Rp1 triliun ini dapat memberi angin segar bagi para investor maupun end user, terutama para generasi milenial yang menginginkan hunian sesuai kebutuhan serta lifestyle mereka. The Parc Apartemen sendiri terdiri dari tiga tower setinggi 13 lantai yang direncanakan sebanyak 1.701 unit.

Tower pertama yang direncanakan dibangun pada akhir tahun ini menyediakan tiga tipe, yakni Studio (22,55 m2), 1 Bedroom (30,06-37,49 m2) dan 2 Bedroom (46,60 m2). Saat ini, The Parc dibanderol dengan harga promo dan terjangkau mulai dari Rp357 juta sampai dengan Rp731 jutaan per unit. Sementara konstruksi tower 1 ditargetkan selesai akhir tahun ini.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak