alexametrics

Pemborosan dan Pendapatan, Dua Sisi Mata Pisau Bermain Gim

loading...
Pemborosan dan Pendapatan, Dua Sisi Mata Pisau Bermain Gim
Bermain gim seperti dua sisi mata pisau. Selain menghasilkan pendapatan juga pemborosan. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
Bermain gim seperti dua sisi mata pisau. Bagi pemain yang sekadar hobi, mungkin mereka tak mengeluarkan banyak uang. Paling hanya mengeluarkan uang untuk membeli paket internet. Penggemar gim jenis ini akan menjadi boros ketika tergoda untuk membeli skin dan rare item. Skin merupakan kosmetika berbentuk gambar yang disematkan dalam gim. Bentuknya bisa berupa karakter, persenjataan, dan pakaian.

Sementara itu, rare item adalah kosmetika dalam gim yang berwujud barang dalam gim. Biasanya, item ini memiliki nilai tertentu yang sulit diukur dengan mata uang. Nilainya ditentukan dari seberapa langka barang itu dan seberapa estetis wujudnya dalam gim. Rangga Ekaprasetya, salah seorang penggemar gim daring, menerangkan bahwa skin dan rare item bisa diperoleh melalui dua cara, yakni membeli menggunakan pulsa maupun dompet elektronik atau meraih pencapaian tertentu dalam gim itu sendiri.

Nilai skin dan rare item kisarannya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Dua tahun lalu, sempat ada skin senapan di CS: Global Offensive (CS:GO) yang dibanderol pada kisaran Rp8-15 juta,” terangnya, Jumat pekan lalu. Seorang gamer lainnya bernama Fahmi Hambali Nur menerangkan pernah mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah dan bermain hingga 12 jam sehari. Pria 25 tahun itu mengakui bahwa uang tersebut habis untuk membeli rare item. “Enggak mau kalah sama orang lain,” ujarnya kepada SINDO Weekly.



Demi memenuhi hasratnya untuk bermain gim dan bersaing dengan sesama teman, ia pernah menggunakan uang bayaran sekolah. Ia nekat melakukan itu karena ada rare item yang hanya bisa dibeli dalam rentang waktu tujuh hari. Fahmi mulai mengubah kebiasaan ketika lulus sekolah menengah atas (SMA). Ia menjadi joki, yakni gamer yang memainkan akun sebuah gim milik orang lain untuk menaikkan peringkat atau level. “Pertama kali menjadi joki dapat bayaran sekitar Rp75ribu,” ucapnya.

Pendapatan sebagai joki bisa meningkat menjelang kompetisi. Biasanya, banyak orang ingin menaikkan level karena kompetisi itu mensyaratkan level tertentu. Pada musim seperti itu, pendapatannya bisa mencapai Rp4-Rp6 juta per bulan. “Sekarang paling sehari Rp250ribu,” tuturnya. Kevin Susanto mengungkapkan bahwa saat awal menekuni gim, dirinya bisa mengeluarkan uang Rp5-Rp7 juta. Itu digunakan untuk membeli perangkat komputer dan bayar internet.

Sejak kelas 3 SMA, Kevin mulai mengikuti kompetisi gim daring. Sekarang, Kevin telah menikmati buah iseng-isengnya bermain gim hingga menjadi atlet e-sports profesional. Pendapatan setiap bulannya rata-rata berkisar Rp10-Rp15 juta. “Kalau ditotal (dengan yang lain-lain), itu sekitar US$71 ribu,” terangnya.

Kasandra Putranto, psikolog, mengatakan bahwa pada dasarnya gim itu salah satu bentuk rekreasi. Dalam tahap ini, gim bermanfaat untuk menyalurkan ketegangan dan memperoleh kebahagiaan. Masalahnya, bermain gim berlebihan bisa menjadi adiksi yang berpotensi mengakibatkan gangguan fungsi pada seseorang. “Mereka kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dorongan dalam diri,” ujarnya kepada SINDO Weekly.

Menurut Kevin, pembeda krusial antara pemain gim yang terkena adiksi (kecanduan) dan tidak adalah kemampuan mengatur atau membagi waktu. Jangan sampai mengganggu pekerjaan, waktu belajar, atau perihal produktivitas lainnya. Ia menyarankan para pemain kasual atau pemula (non-profesional) agar tidak bermain gim lebih dari delapan jam sehari. “Beda dengan yang sudah profesional. Itu kan memang sudah menjadi pekerjaan tetap,” pungkasnya. (Fahmi W. Bahtiar, Faorick Pakpahan, dan Ade Nyong La Tayeb)
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak