alexametrics

Jadi Prioritas, Daya Saing Industri Makanan dan Minuman Dipacu

loading...
Jadi Prioritas, Daya Saing Industri Makanan dan Minuman Dipacu
Industri makanan dan minuman sangat strategis sehingga dijadikan salah satu industri prioritas dalam percepatan implementasi Making Indonesia 4.0. Foto/SINDOnews/Inda Susanti
A+ A-
JAKARTA - Industri makanan dan minuman sangat strategis sehingga dijadikan salah satu industri prioritas dalam percepatan implementasi Making Indonesia 4.0.

Kontribusi industri makanan dan minuman yang mencapai 6,25% terhadap PDB nasional dan 37% terhadap PDB industri pengolahan non migas pada kuartal III/2019. Angka laju pertumbuhannya secara kumulatif (C to C) adalah sebesar 7,72%.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim mengatakan, ekspor produk makanan dan minuman (termasuk minyak kelapa sawit) pada periode Januari-September 2019 sebesar USD19,31 miliar dengan nilai impor sebesar USD8,78 miliar, sehingga neraca perdagangan bernilai positif.



"Kami juga mendorong industri makan dan minum agar bisa memenuhi standar industri 4.0 dan berdaya saing global," ungkap Abdul di sela jumpa pers Salon International de l'alimentation (SIAL) Interfood 2019 di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Tercatat juga jumlah tenaga kerja di sektor industri makanan dan minuman pada Februari 2019 sebanyak 5,2 juta orang atau 28,52% dari total tenaga kerja industri pengolahan yang mencapai 18,2 juta orang.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, keikutsertaan produsen dan produk makanan dan minuman Indonesia dalam ajang pameran berskala internasional seperti SIAL Interfood juga penting supaya produk makanan dan minuman Indonesia bisa go international. Tahun ini SIAL Interfood akan digelar untuk ke-19 kalinya di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 13-16 November.

"Kita harus bisa mencapai pertumbuhan industri makanan dan minuman hingga 9%, atau bahkan lebih. Kita tidak bisa puas di angka pertumbuhan yang sekarang," tandasnya.

Dia juga menambahkan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tidak bisa berjalan tanpa ada industri yang mendukung. Pasalnya, industri pariwisata erat sekali dengan makanan dan minuman.

"Dalam industri ini, penting kita melihat bagaimana perkembangan inovasi. Kita perlu punya benchmark, mengetahui perkembangan negara lain seperti apa. Kita harus mengejar ketertinggalan kita di sektor industri ini," lanjut Adhi.

Dengan diselenggarakannya SIAL Interfood 2019, diharapkan peluang ekspor produk makanan dan minuman Indonesia akan meningkat seiring mengenalkan Indonesia sebagai salah satu destinasi kuliner bagi wisatawan mancanegara.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak