alexametrics

Ini 3 Jenis Investasi yang Paling Banyak Disalahgunakan Penipu

loading...
Ini 3 Jenis Investasi yang Paling Banyak Disalahgunakan Penipu
Sejumlah cara investasi banyak digunakan para penipu untuk membobol uang korbannya. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Investasi semakin diminati sejalan dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran finansia masyarakat. Sayangnya, fenomena ini juga dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan tak halal.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengimbau agar masyarakat terus berhati-hati, mengingat semakin banyaknya perusahaan investasi ilegal yang beroperasi.

(Baca Juga: Literasi Keuangan Masih Rendah, Banyak Masyarakat Jadi Korban Investasi Bodong)

Menurut dia, ada tiga jenis investasi bodong yang paling banyak memakan korban. Salah satunya adalan investasi bodong berkedok transaksi valuta asing alias forex. Iming-iming imbal hasil tinggi tanpa pengetahuan yang memadai adalah cara umum para penipu untuk menggaet korbannya.



"Investasi perdagangan berjangka kayak forex dan kegiatan perdagangan forex yang menghasilkan keutungan per hari sering makan korban," ujarnya saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Dia melanjutkan, investasi jenis multi level marketing (MLM) dengan skema ponzi (memberikan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayar investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang didapat dari individu atau perusahaan) adalah jenis penipuan paling populer lainnya. "MLM tak berizin dengan skema Ponzi ini tak cuma menjual produk atau jasa tapi juga kepesertaan," jelasnya.

Lalu, Tongam menambahkan, ada pula investasi money game yang mana investasi ini menawarkan uang dengan imbal hasil yang tinggi dalam waktu cepat. "Kasus Qnet yang menjual produk dengan harga berlebihan. Ini sudah mengindikasikan penggunaan skema piramida atau money game," jelasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak