alexametrics

Mimpi Besar Ariy Arka Menggandeng Pertamina Ciptakan Brand Global

loading...
Mimpi Besar Ariy Arka Menggandeng Pertamina Ciptakan Brand Global
Desainer Ariy Arka. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Industri mode atau fesyen identik dengan kesan gegap gempita dan glamor. Sebagai salah satu dari 16 industri kreatif, industri fesyen di Tanah Air mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan catatan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), subsektor fesyen menjadi penyumbang terbesar kinerja ekspor ekonomi kreatif Indonesia.

Pertumbuhan pesat ekspor industri fesyen itu tak lepas dari peran fesyen yang bukan lagi hanya sebagai kebutuhan, melainkan sudah menjadi gaya hidup. Sehingga, hal itu mampu mendorong pertumbuhan industri ini lebih cepat. Tren fesyen yang berkembang dengan cepat itu juga tidak lepas dari produktivitas desainer fesyen lokal yang semakin kreatif dan inovatif

"Potensi industri kreatif kita sangat besar dan harus terus dikembangkan," ujar desainer Ariy Arka kepada SINDOnews di Jakarta, Jumat (15/11/2019).



Meski tergolong baru di industri mode Tanah Air, namun Ariy menjadi salah satu desainer muda Indonesia yang mampu menaklukkan pentas mode dunia. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara ini pernah mendapat kesempatan menampilkan karyanya di ajang Indonesia Beautiful di Little Bay, Australia.

Bahkan, Ariy juga pernah menampilkan karyanya di ajang Bratislava Slovakia Mercedes Benz Fashion Week. Malam ini, Ariy akan menampilkan karyanya di ajang Indonesia Sharia Economic Festival yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) hingga 16 November 2019 besok.

Mulai serius menggeluti industri fesyen pada 2011, Ariy mengaku sering melakukan kolaborasi dengan banyak pihak untuk mengembangkan produk fesyen Indonesia agar bisa mendunia. Kolaborasi bagi dia merupakan hal yang penting karena industri fesyen saat ini bukan lagi sekadar mengenai bagaimana cara berpakaian, tetapi juga sudah masuk ke dalam bisnis, tren dan gaya hidup. Ariy menilai banyak potensi-potensi yang dimiliki oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan kearifan lokalnya yang bisa disinergikan dengan para desainer untuk dijadikan produk yang memiliki nilai tambah lebih besar.

"Saya sendiri banyak melakukan kolaborasi dengan perajin mitra binaan Pertamina, dimana Pertamina berperan sebagai fasilitator," ucapnya. Ariy mengatakan, di tengah persaingan ketat dengan merek-merek Eropa yang banyak menyerbu pasar Indonesia, dirinya justru bisa mengembangkan karyanya hingga menembus pasar mancanegara.

"Sejak awal berkarir sebagai desainer, saya banyak dibantu Pertamina. Bentuk dukungannya bermacam-macam termasuk pelatihan," paparnya. Namun Ariy mengaku, dukungan yang dirasakan sangat membantu dirinya adalah dukungan permodalan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu. "Ada bantuan modal usaha dan itu sangat berarti bagi saya. Karena jika pinjam di bank bunganya tinggi," paparnya.

Tak hanya Ariy, desainer Dimita Agustin perancang batik ready to wear untuk wanita, dengan brand Dara Baro juga merasakan dampak positif sebagai mitra binaan PT Pertamina (Persero). Pertamina memberikan bimbingan pengembangan keterampilan dan kesempatan kepada Dimita untuk mengikuti pameran skala nasional dan internasional. Bahkan, Dimita mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran di Amerika, Turki dan Afrika Selatan.

Tidak semua desainer beruntung seperti Ariy dan Dimita. Banyak desainer maupun perajin skala UMKM yang masih perlu memiliki akses yang lebih luas lagi dalam memasarkan produknya. Karena itu, Ariy berharap mereka-mereka yang masih belum memiliki akses ke pendanaan maupun pelatihan akan mendapat kesempatan yang sama di masa mendatang. "Pertamina perlu membuat semacam wadah untuk mensinergikan desainer dengan para perajin sehingga bersama-sama bisa mengembangkan industri kreatif," harap Ariy.

Ariy juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar lagi kepada industri fesyen di Tanah Air. Peran Pemerintah menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia. Tak hanya itu, diharapkan ada keterlibatan pihak lain baik dari swasta maupun BUMN yang meniru langkah Pertamina dalam mendukung industri fesyen lokal.

"Kita sedang berada di era hyper competition, karenanya perlu dukungan dari semua pihak," ungkap Ariy. Dia memberi contoh, di pasar dalam negeri, produk-produk ready to wear merek eropa lebih memiliki ruang sehingga fesyen merek lokal kurang mendapat tempat. Produk-produk seperti Zara, Uniqlo, H&M banyak diminati masyarakat Indonesia. "Seharusnya kita bisa memiliki brand dan berjaya seperti mereka. Dengan kolaborasi dan sinergi, misalnya Pertamina menjadi investornya dan para desainer serta perajin untuk pengembangan produknya, kita sama-sama mengembangkan brand lokal yang bisa berjaya tak hanya di dalam negeri tapi juga di pentas global seperti merek-merek eropa itu," harapnya.

Pertamina sendiri menegaskan komitmennya untuk terus membantu sektor UMKM agar naik kelas dan bisa bersaing di kancah nasional dan global. Di wilayah Marketing Operation Region (MOR) I misalnya, Pertamina menggelar program pengurusan izin usaha UMKM mitra binaannya di Sumatera Utara. Ada 30 pelaku UMKM yang menjadi peserta program pengurusan izin usaha UMKM. Mereka adalah mitra binaan Program Kemitraan (PK) Pertamina dari wilayah Kabupaten Deli Serdang, Tapanuli Tengah, Langkat dan Kota Medan. Dengan mengantongi izin usaha, para pelaku UMKM akan lebih mudah mendapat akses pendampingan usaha dan memudahkan mendapat program pemberdayaan.

Sedangkan di Surabaya, Pertamina membantu pendanaan untuk mengembangkan pelaku UMKM yang tinggal di bantaran Sungai Jambangan, Kota Surabaya. Pengembangannya dijalankan dengan konsep desa wisata berwawasan lingkungan. Para pelaku UMKM diberdayakan agar bisa menghasilkan berbagai produk unggulan yang menarik bagi wisatawan.

Untuk memberdayakan UMKM di bantaran Sungai Jambangan, Pertamina melalui MOR V Jatim Bali Nusa Tenggara menggagas program Kampung Pejabat atau Pusat Ekonomi Jambangan Hebat dengan area seluas 300 hektare mencakup 4 kelurahan di Kecamatan Jambangan. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 2018 hingga lima tahun ke depan. Dalam dua tahun ini, Program Kampung Pejabat telah membuka lapangan kerja baru, terutama bagi pelaku UMKM dari kalangan ibu-ibu. Melalui pendampingan usaha, bantuan modal dan pemasaran, kini usaha mereka sudah mulai mandiri.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak