alexametrics

Berdasarkan GMTI 2019, Wisatawan Muslim Global Diprediksi Naik

loading...
Berdasarkan GMTI 2019, Wisatawan Muslim Global Diprediksi Naik
Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Berdasarkan Indeks Perjalanan Muslim Global (GMTI) 2019, pariwisata halal Indonesia telah memenangkan tempat pertama. Bahkan, tahun lalu ada 140 juta turis muslim dengan belanja online sebesar USD35 miliar.

"Ini pencapaian yang luar biasa," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, dalam kegiatan Indonesia Halal Tourism Summit yang bertajuk “The Future of Halal Tourism: Better and Sustainable as an Implementation of Rahmatan Lil Alamiin Concept” sebagai rangkaian kegiatan ISEF 2019 di Jakarta, akhir pekan.

Dia pun memprediksi jumlah wisatawan muslim global terus meningkat per tahun dan pada tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 158 juta orang. "Ini berarti ada segmen pasar yang harus dikerjakan. Apalagi, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia," katanya.



Oleh karena itu, industri pariwisata halal telah ditetapkan sebagai sektor utama, pendorong utama untuk pengembangan industri halal Indonesia. Menurut Dody, produk atau layanan halal tidak hanya terbatas pada dunia muslim. Industri halal adalah fenomena global dan seharusnya tidak lagi hanya dikaitkan dengan agama.

Label halal, misalnya, telah menjadi simbol kualitas yang baik (thoyyib) dan berfungsi sebagai pengidentifikasi bagi konsumen, baik itu muslim atau nonmuslim untuk membuat keputusan yang lebih tepat. Pariwisata halal sebagai bagian dari industri halal mengacu pada kegiatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, dengan maksud melibatkan lebih banyak muslim dalam industri pariwisata.

Namun demikian, lanjut Dody, beberapa masih menghubungkan pariwisata halal hanya dengan makanan halal dan minuman nonalkohol. "Tapi, pada kenyataannya, pariwisata halal meliputi kegiatan halal, hotel halal, serta diadakan di situs yang dilengkapi dengan fasilitas di mana umat Islam dapat beribadah," ujar Dody. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, perkembangan industri pariwisata halal di Indonesia sangat pesat.

Apalagi, pariwisata halal tidak bertujuan mengasingkan wisatawan muslim dari kegiatan pariwisata umum atau sebaliknya untuk mengasingkan pengunjung nonmuslim di tujuan wisata tertentu. "Konsep pariwisata halal juga dapat membantu pengunjung nonmuslim untuk memiliki layanan pariwisata yang aman, sehat, dan thoyyib," jelasnya.

Inisiatif pariwisata halal juga tentu saja diharapkan menjadi salah satu sarana bagi nonmuslim untuk melihat dan belajar tentang ajaran Islam yang sebenarnya. "Ini berarti para pelancong muslim dapat melakukan perjalanan dengan nyaman. Sementara para pelancong nonmuslim dapat menemukan makna Islam yang sebenarnya sebagai nilai universal," tandasnya.

Sebagai negara mayoritas muslim, pariwisata halal sangat penting bagi Indonesia. Pemerintah telah secara konsisten memulai berbagai inisiatif untuk memastikan pengembangan pariwisata halal secara konsisten dan komprehensif. Ini karena pemerintah sudah menyadari potensi besar dari pariwisata halal yang tidak hanya terbatas pada pasar Indonesia, tetapi juga dalam konteks meningkatnya permintaan global.

Dari sudut pandang tingkat makro, lanjut Dody, pertumbuhan pariwisata halal menjadi salah satu sektor yang paling menjanjikan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Dalam perspektif mikro, sejumlah besar pemuda, populasi produktif dengan kesadaran yang lebih tinggi untuk mengadopsi gaya hidup muslim telah mendorong industri pariwisata halal ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

BI secara konsisten akan mengawasi pengembangan industri pariwisata halal di Indonesia. Dalam rangka mendorong lebih lanjut peluang tersebut, BI bekerja sama dengan Komite Keuangan Syariah Nasional (KNKS) dan pemangku kepentingan terkait lainnya telah menyusun strategi untuk mengembangkan industri pariwisata halal Indonesia.

Direktur DEKS BI M Anwar Bashori mengungkapkan, strategi ini bertujuan memperkuat sektor ekonomi Islam, meningkatkan efisiensi pasar keuangan Islam dan menekankan penelitian dan pendidikan untuk mendukung dua strategi pertama. Strategi ini berlaku untuk semua aktor terkait dari konglomerat besar dan kelompok bisnis, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), baik di sektor komersial maupun sosial.

Di tingkat nasional, kerangka kerja strategis industri halal tersebut dikoordinasikan langsung oleh Presiden Indonesia sebagai Kepala KNKS dan berharap akan menyelaraskan dan menyinergikan semua kebijakan, peraturan, dan kegiatan di antara anggota KNKS untuk secara kolaboratif mempercepat pengembangan industri halal.

"Kami yakin bahwa Festival Ekonomi Syariah Indonesia (ISEF) 2019 atau KTT Pariwisata Halal Indonesia lebih khusus akan mengekspos konsumen dan perwakilan bisnis untuk berbagai penawaran di pasar pariwisata halal di seluruh dunia," tandas Anwar.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak