alexametrics

Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp551 Triliun

loading...
Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp551 Triliun
Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp551 Triliun. (Dok. SINDOnews).
A+ A-
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana mencapai Rp551 triliun hingga 14 November 2019. Dana tersebut didukung peredaran produk reksa dana yang ada dipasar telah mencapai 2.165 produk.

Menurut Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto, halini menunjukkan industri pasar modal masih positif meski saat ini total investor reksa dana baru mencapai 1,5 juta orang.

“Ini berarti rasio jumlah investor dan total populasi penduduk masih cukup rendah, sedangkan jumlah rasio investor baru hanya 0,8% dari total populasi penduduk 260 juta,” tegas Sujanto di Jakarta kemarin.



Dia mengungkapkan, jika dibandingkan negara lain maka rasionya bisa mencapai 20% investor dari total populasi penduduk. Untuk itu, OJK terus mendorong pertumbuhan investor domestik, khususnya dari sisi ritel lewat platform daring. “Ini akan membuat akses pembelian produk dari seluruh pelosok Indonesia,” kata Sujanto.

Dia mengatakan salah satu strategi yang dikembangkan adalah dengan kampanye #lnvestasiAjaDulu bersama Tokopedia untuk edukasi masyarakat soal instrumen investasi. Pendekatan ini dibutuhkan sebagai bagian meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di tengah masyarakat. “Strategi pengembangan literasi keuangan nasional merupakan salah satu fokus kami tahun ini, khususnya kepada masyarakat untuk memulai berinvestasi,” ujarnya.

Menurut dia, masyarakat khususnya segmen menengah ke bawah perlu diberikan pengalaman yang baik dalam investasi. Mereka membutuhkanpilihan investasi rendah risikotetapi tetap memberikan hasilyang kompetitif. Oleh karena itu, opsi reksa dana pasar uang cocok bagi mereka sehingga nantinya investor reksa dana diharapkan akan bertambah dalam pasar modal nasional.

AVP of Fintech Tokopedia Samuel Sentana mengatakan, pihaknya menggandeng OJK, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan jumlah investor ritel. Nantinya, para calon investor bisa membeli produk reksa dana dengan harga minimal Rp10.000 di aplikasi Tokopedia. “Kampanye dilakukan berupa seminar demi meningkatkan inklusi keuangankalangan mahasiswa sampaiibu rumah tangga untuk mem-persiapkan masa depan merekadengan produk investasi reksadana sehingga dapat membantu inklusi keuangan dan akselerasi perekonomian Indonesia,” jelas Samuel.Ketua Presidium Dewan APRDI Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan, dana kelolaan yang tembus Rp551 triliun dengan jumlah investor mencapai 1,5 juta masih didominasi oleh investor institusi. Karena itu,pihaknya menyambut baik insiatif Tokopedia demi meningkatkan komposisi investor ritel.

“Reksa dana instrumen yang cocok untuk nasabah ritel. Tantangannya proses yang tradisional dan face to face, namun sekarang akan sangat terbantu dengan teknologi. Oleh karena itu, kami akan mendukung Tokopedia,” papar Prihatmo.Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, BEI sebagai penyelenggara perdagangan dan regulator di pasar modal Indonesia, mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan khususnya pada generasi milenial terutama untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

“Kami berharap kampanye ini akan terus bergulir dan diikuti dengan rangkaian kegiatan berikutnya agar berbagai pihak mendapatkan manfaat positif dariinovasi Tokopedia sehingga mendukung kemajuan di pasar modal kita,” ujar Hasan.

Hasil riset “Dampak Tokopedia terhadap Perekonomian Indonesia” oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia pada 2018-2019 menyebutkan bahwa Tokopedia telah membantu 78% pengguna menjadi lebih paham terhadap produk investasi digital. Selain itu, sekitar 82% dari pengguna jugamenjadi semakin paham dalam menggunakan dompet digital. (Hafid Fuad)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak