alexametrics

Tren Hunian Co-Living Makin Menjanjikan di Era Milenial

loading...
Tren Hunian Co-Living Makin Menjanjikan di Era Milenial
SouthCity, Apartemen yang menerapkan konsep Co-Living. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Tren hunian co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan. Besarnya angka backlog atau defisit ketersediaan perumahan yang mencapai 300.000-400.000 unit per tahun membuat pasar hunian berkonsep co-living terbuka lebar.

“Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus,” ujar Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Secara khusus, Edwin menyoroti tipe residensial berkonsep co-living dengan harga di bawah Rp800 juta yang memiliki pendapatan berulang atau tetap seperti passive income setiap bulannya. Menurut Edwin, jika dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus. Hal itu didasari oleh kinerja fundamental perusahaan terkait.



“Sektor properti kedepannya diperkirakan bakal bergairah. Kalau mau IPO (initial public offering) saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,” bebernya. Dia melihat, konsep hunian co-living yang berada di daerah industri, wilayah perdagangan, dekat sekolah atau universitas itu memiliki potensi sangat bagus.

Pasalnya, konsep hunian co-living memiliki fasilitas komprehensif dengan harga terjangkau dan lokasi strategis. Konsep ini juga cocok untuk masyarakat urban sehingga mulai banyak pengembang atau pengelola yang meliriknya. Salah satu pemain bisnis co-living yang sudah lama berkecimpung adalah PT Hoppor International atau lebih dikenal Kamar Keluarga.

Perusahaan itu salah satunya menyediakan hunian berkonsep kos-kosan modern yang terintegrasi dengan aneka fasilitas pendukung untuk penguhninya. CEO Kamar Keluarga Charles Kwok menjelaskan, konsep co-living yang dijalankan oleh Kamar Keluarga memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau.

Perusahaan yang berdiri dua tahun silam itu kini memiliki 2.041 kamar, tersebar di 75 lokasi strategis. “Potensi industri ini sangat besar dan hal ini membuat kami berkembang dengan pesat serta membuat seluruh mitra kami menikmati manfaat dari passive income yang ada,” tutup Charles.

Dalam menjalankan bisnisnya, Kamar Keluarga mengusung lima pilar bisnis yakni Pertama, konsep KK BOT (build operate transfer), di mana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil. Kedua, yaitu KK Aset yang membantu mitranya untuk mencari, membangun dan mengelola properti. “ketiga kami juga punya konsep KK Operator yakni dengan mengelola secara penuh seluruh lahan yang dijadikan kos maupun bisnis lainnya,” katanya.

Dia menambahkan, pilar keempat yaitu KK Development di mana perusahaan bertindak sebagai pihak yang membangun rumah berkonsep minimalis dengan harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat milenial. “Kelima adalah KK Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan,” ujar Charles.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak