alexametrics

IMLOW: Kontainer Limbah Impor Ganjal Pencanangan Ecoport Priok

loading...
IMLOW: Kontainer Limbah Impor Ganjal Pencanangan Ecoport Priok
Mangkraknya kontainer diduga berisi limbah disebut menjadi ganjalan penerapan konsep ecoport di Pelabuhan Tanjung Priok. Foto/Ilustrasi/Dok. SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pegiat dan pengamat kemaritiman dari Indonesia Maritime, Transportation and Logistic Watch (IMLOW) mengapresiasi pencanangan penerapan konsep pelabuhan berwawasan lingkungan atau ecoport di Pelabuhan Tanjung Priok. Kendati begitu masih ada persoalan mangkraknya ribuan kontainer impor diduga limbah yang belum tuntas hingga saat ini.

Sekjen IMLOW Achmad Ridwan Tentowi mengatakan, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta sebagai pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia, sudah semestinya menerapkan ecoport pada layanan dan aktivitasnya.

"Kami sangat apresiasi konsep ecoport di pelabuhan Priok itu, namun sayangnya sampai kini masih cukup banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan sebelum menuju ke sana," ujarnya kepada wartawan, pada Rabu (20/11/2019).



Menurut Ridwan, kendala yang paling mencolok untuk menerapkan ecoport di Priok sekarang ini yakni masih terdapat dan menumpuknya ribuan kontainer impor berisi plastik yang diduga mengandung limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). "Bagaimana konsep ecoport itu bisa berjalan maksimal jika di pelabuhannya masih terkepung kontainer diduga limbah B3 itu," cetusnya.

Ridwan mengatakan regulator dan instansi terkait di pelabuhan Priok semestinya reaktif dalam menyelesaikan masalah terkatung-katungnya ribuan kontainer limbah di pelabuhan Priok itu. "Kalau dibiarkan seperti sekarang kontainer limbah itu berpotensi mencemari wilayah kerja Pelabuhan Tanjung Priok," paparnya.

Ridwan juga mengatakan, Kadin Indonesia telah merekomendasikan agar dibentuk satuan tugas (Satgas) yang melibatkan stakeholders terkait untuk menyelesaikan terlantarnya kontainer impor diduga limbah itu.

Berdasarkan data Ditjen Bea dan Cukai, hingga saat ini, masih terdapat 1.008 kontainer impor yang mangkrak di pelabuhan Priok diduga berisi limbah plastik mengandung B3 dan belum diajukan pemberitahuan pabeannya.

Sementara itu, pada Rabu (20/11) seluruh pemangku kepentingan atau stakeholders di Pelabuhan Tanjung Priok telah mendeklarasikan penerapan konsep pelabuhan berwawasan lingkungan atau ecoport di kawasan pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Capt. Hermanta mengatakan, deklarasi forum ecoport pelabuhan Tanjung Priok ini merupakan salah satu hasil dari kajian konsep ecoport yang telah dilakukan oleh Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok. "Dalam dunia kepelabuhanan, ecoport telah menjadi salah satu tren dunia untuk mendukung kecintaan terhadap lingkungan," ujarnya.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok Dwi Teguh Wibowo, saat disinggung soal masih menumpuknya ratusan kontainer importasi bermasalah itu di Pelabuhan Priok hingga saat ini, menyatakan instansinya masih menunggu hasil pemeriksaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melakukan eksekusi.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak