alexametrics

Sri Mulyani Bahas Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dengan Singapura

loading...
Sri Mulyani Bahas Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dengan Singapura
Menkeu Sri Mulyani membahas perjanjian penghindaran pajak berganda dengan Singapura sebagai tindak lanjut MoU antara Ditjen Bea Cukai Indonesia dan Singapura. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani bertemu dengan Deputi Perdana Menteri / Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat. Adapun pertemuan tersebut membahas perjanjian penghindaran pajak berganda yang merupakan tindak lanjut antar Direktorat Jendral (Ditjen) Bea Cukai.

"Dalam pertemuan tersebut kami membahas Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dengan Singapura, tindak lanjut MoU antara Ditjen Bea Cukai Indonesia dan Singapura dalam rangka memperkuat pengawasan terhadap tindakan penyelundupan," ujar Sri Mulyani dalam akun resmi media sosialnya di Jakarta, Jumat (23/11/2019).

Sebagai informasi pemerintah Indonesia terikat dengan Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda atau disingkat P3B yang dilakukan dengan pemerintah negara mitra atau yurisdiksi mitra P3B.



Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pertukaran informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah perpajakan dengan otoritas pajak negara mitra atau yurisdiksi mitra P3B sesuai dengan ketentuan P3B yang berlaku. Ditambah serta dapat meminta informasi kepada Wajib Pajak atau pihak lain mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah perpajakan yang akan dipertukarkan.

Wajib Pajak atau pihak lain wajib memenuhi permintaan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah perpajakan. Dalam hal Wajib Pajak atau pihak lain tidak memenuhi permintaan tersebut, Wajib Pajak atau pihak lain dikenai sanksi sesuai dengan Undang-Undang.

Lebih lanjut Sri Mulyani juga menyinggung tantangan kepemimpinan di masa depan akan jauh lebih rumit. Namun hal ini jangan sampai menghalangi generasi muda untuk bergabung sebagai abdi negara.

"Generasi sekarang harus mampu mencari cara untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di era post-industrial, di mana teknologi dan komunikasi yang berkembang pesat sehingga segala sesuatunya menjadi tak terbatas," jelasnya

Menurutnya, generasi muda saat ini juga adalah generasi yang pertama merasakan dampak perubahan iklim dan masalah keamanan yang sangat berbeda di masa depan. Banyak hal yang tidak dapat diprediksi, dan jauh lebih kompleks.

"Kita sekarang hidup di dunia multi-kutub dan semua dapat terhubung. Di desa global ini, orang, bisnis, modal, teknologi, informasi, dan pengetahuan tersebar tanpa batas," tandasnya.

Terlepas dari semua ini, pihaknya akan menginginkan hal yang sama: kemakmuran dan martabat serta keadilan dan keamanan. "Satu-satunya hal yang berubah adalah konteksnya," paparnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak