alexametrics

Gaya Leadership Milenial

loading...
Gaya Leadership Milenial
Yuswohady, Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com. (Istimewa).
A+ A-
SURVEI Gallup (2016) menemukan enam leadership attributes yang harus diperhatikan untuk memimpin karyawan milenial seperti terlihat pada bagan.

Yang menarik, karyawan milenial tak mau dipimpin oleh atasan yang “bossy”. Mereka menginginkan pemimpin yang memainkan peran sebagai coach. Yaitu pemimpin yang mau berinteraksi secara intens, membimbing, dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Artinya, perubahan generasi karyawan dari Baby Boomers/Gen-X ke generasi milenial menuntut adanya perubahan format dan gaya kepemimpinan di dalam organisasi. Setiap perusahaan mau tak mau harus mulai mentransformasi gaya kepemimpinannya agar relevan dengan generasi milenial.



Apa jadinya kalau gaya kepemimpinannya tidak diubah? Milenial emoh bekerja di perusahaan tersebut sehingga mereka tidak mendapatkan talenta-talenta terbaik dari kalangan milenial.

Survei lain yang dilakukan oleh lembaga konsultasi HR Freshminds menunjukkan, sekitar 40% dari 241 responden Inggris di level bawah, tengah, dan atas organisasi menyatakan bahwa gaya kepemimpinan “transformasional” memiliki dampak paling siknifikan untuk memotivasi karyawan milenial. Kemudian disusul 36,5% adalah gaya kepemimpinan “demokratis”. Dan di urutan buncit sekitar 9,5% adalah gaya kepemimpinan “otokratis”.

Riset itu menegaskan bahwa generasi milenial lebih cocok dikelola oleh para pemimpin yang membuka pintu seluas-luasnya untuk komunikasi dan partisipasi ketimbang pemimpin yang menekankan “command& control”, “top-down” dan “rigid” alias pemimpin yang “bossy”.

Kenapa begitu?
Pertama, karena karyawan milenial sangat menuntut empowerment. Artinya mereka akan maksimal bekerja jika feel empowered untuk membuat keputusan dan melakukan action. Si pemimpin harus legowo mendelegasikan wewenangnya serta memberi dan membuka peluang karyawan milenial untuk berkreasi.

So, mereka menuntut bosnya memberikan cukup ruang empowerment. Begitu juga sebaliknya, mereka akan memberikan empowerment penuh jika menduduki posisi pemimpin.

Kedua, karena milenial menginginkan para bosnya sebagai mentor yang memberikan umpan balik secara terus-menerus (continuousfeedback). Artinya, mereka menginginkan pemimpin yang dekat dan bersedia selalu berinteraksi secara intens. Jadi bukan pemimpin yang mengambil jarak dan sok berkuasa.

Apa jadinya jika mereka mendapati pemimpin yang sok berkuasa? Dengan gampang mereka keluar dari perusahaan karena tak mendapat sosok pemimpin yang fit dengan nilai-nilai yang diinginkannya.

Ketiga, milenial menginginkan setiap pemimpinnya di tempat kerja membuka kesempatan untuk memberikan kontribusi yang meaningful kepada perusahaan. Milenial ingin “dianggap” artinya mereka ikut diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan-keputusan penting perusahaan. Hanya dengan begitu mereka menemukan eksistensi dalam bekerja.

Ingat, bagi milenial eksistensi ini lebih penting dibandingkan hanya sekedar untuk mendapatkan uang.

Keempat, milenial juga menginginkan pemimpin yang selalu hadir (presence) dan dekat (accessible) pada saat mereka membutuhkan. Presence dan accessible itu tak harus selalu bertemu muka secara fisik, tapi bisa melalui telepon, percakapan di grup WA, dengan email, atau dialog via videoconference. Banyak digitalchannels yang bisa mereka gunakan untuk berkoneksi dan berinteraksi dengan pimpinannya.

Accessibleleader dalam kaca mata milenial memiliki dua perspektif. Pertama dari perspektif waktu, artinya si pemimpin harus menyediakan waktu setiap saat (always-on anytime, anywhere) untuk mementori mereka.

Kedua dari perspektif relasi artinya pola komunikasi dan interaksi yang digunakan bersifat kasual dan tidak formal. Ingat, milenial adalah generasi yang lebih menyenangi informalitas baik dalam berbusana, berpenampilan, dan cara berkomunikasi.

Dan terakhir, milenial menginginkan gaya kepemimpinan yang inklusif, terbuka (transparan), dan minim hirarki. Mereka menuntut para atasannya untuk bekerja secara kolaboratif di dalam struktur organisasi yang datar (flat) dan tidak kaku oleh belitan birokrasi.

Intinya kini semakin urgen bagi pemimpin di berbagai organisasi untuk mengubah format kepemimpinan dari gaya kepemimpinan zaman old yang cenderung bossy, otoriter, kaku, dan tertutup menjadi gaya kepemiminan zaman now (millennial-friendly) yang lebih egaliter, demokratis, terbuka, dan inklusif.

Apa yang terjadi kalau gaya kepemimpina mereka tidak diubah? Yang jelas karyawan milenial tak akan menemukan chemistry, tak betah, dan akhirnya hengkang dari perusahaan.
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak