alexametrics

Hadapi Tantangan Ekonomi Tahun Depan, Ekonom Sarankan Tiga Strategi Ini

loading...
Hadapi Tantangan Ekonomi Tahun Depan, Ekonom Sarankan Tiga Strategi Ini
Menghadapi sejumlah tantangan ekonomi tahun depan, ekonom menyarankan pemerintah untuk melakukan beberapa strategi. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Menghadapi sejumlah tantangan ekonomi tahun depan, ekonom menyarankan pemerintah untuk melakukan beberapa strategi. Selain itu meski perekonomian Indonesia masih dibayangi perlambatan, namun para pelaku usaha diharapkan tetap optimistis.

“Perekonomian tentu tak lepas dari tantangan, tapi tentu saja para pelaku pasar harus menatap ke depan dengan optimis. Manfaatkan setiap peluang terutama dalam kondisi market yang masih volatile,” beber Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Adrian Panggabean saat Diskusi Media Bersama Chief Economist CIMB Niaga di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Ada beberapa strategi untuk menyikap berbagai tantangan tersebut. Pertama, dalam jangka pendek mengingat keterbatasan kebijakan moneter, pemerintah perlu mempertimbangkan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendekati 3%, dengan merumuskan secara detil kebijakan suplementer yang mampu mereduksi efek negatif dari pelebaran defisit.



Kedua dalam jangka pendek-menengah, pemerintah perlu agresif menaikkan kontribusi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap APBN melalui penurunan biaya yang signifikan dan peningkatan produktivitas yang optimal. "Juga, perlu memanfaatkan potensi pembiayaan lewat mekanisme sekuritisasi aset pemerintah," ujar Adrian.

Ketiga, pemerintah dan regulator perlu segera melakukan terobosan dalam meningkatkan mobilisasi tabungan dalam negeri lewat reformasi besar-besaran di industri dana pensiun dan social security. Selain itu lanjut dia, Pemerintah Daerah juga harus menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara netral, untuk mengurangi ketergantungan daerah terhadap dana alokasi dari pusat.

Di sisi lain, kurs rupiah terus mengalami perbaikan setelah mendekati level Rp15.000 per dolar AS di awal tahun, kini berangsur menguat ke arah Rp14.000 per dolar AS. Hal ini didukung oleh derasnya arus masuk investasi asing di pasar modal.

Menurutnya, maraknya pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang didorong oleh Bank Indonesia juga berkontribusi pada penguatan dan stabilitas kurs di kisaran Rp14.000 per dolar AS pada enam bulan terakhir. "Tahun depan rupiah diprediksi ada di angka Rp14.100, salah satu faktor rupiah yang terus bergerak stabil ya karena DNDF itu," katanya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak