alexametrics

Inflasi Tahunan Melambat, Ekonom Sebut Ada Ruang Penurunan Suku Bunga

loading...
Inflasi Tahunan Melambat, Ekonom Sebut Ada Ruang Penurunan Suku Bunga
Tren inflasi tahunan yang melambat (November 2019 terhadap November 2018) jadi 3,00% dari sebelumnya 3,13% yoy diyakini ekonom membuat ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Tren inflasi tahunan yang melambat (November 2019 terhadap November 2018) jadi 3,00% dari sebelumnya 3,13% yoy diyakini ekonom membuat ruang penurunan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) masih terbuka. Meski secara bulanan, inflasi pada November 2019 yakni sebesar 0,14% cenderung mengalami peningkatan.

"Hal itu membuat ruang untuk suku bunga terbuka akibat inflasi terus melambat," ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Sambung dia melanjutkan, kenaikan inflasi pada bulan November didorong oleh komponen volatile, yang mana mencatatkan inflasi 0,42% mom atau 5,02% yoy. Setelah pada bulan sebelumnya mencatatkan deflasi sebesar 0,47% mom atau inflasi sebesar 4,82% yoy.



"Sementara itu inflasi inti cenderung melambat pula menjadi 0,11% mom atau 3,08% yoy. Di sisi lain, sebagaimana pemerintah belum membuat perubahan terkait harga barang yang diatur, komponen barang yang diatur cenderung datar pada 0,03% mom atau 1,08% yoy," jelasnya.

Berdasarkan komponennya, bahan makanan menjadi pendorong utama dari inflasi pada bulan November ini setelah tiga bulan belakangan mengalami deflasi. Komponen bahan makanan mencatatkan inflasi 0,37%mom atau 4,97%yoy, dan berkontribusi pada 0,07 inflasi bulanan.

"Dari komponen tersebut, komponen yang terbesar dalam berkontribusi pada inflasi ialah bawang merah, tomat, dan daging ayam. Sementara itu, dari komponen ini yang berkontribusi pada deflasi ialah cabai, cabai rawit, dan ikan segar," katanya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak