alexametrics

Dolar AS Nunduk Jelang Data Tenaga Kerja, Rupiah Tegak ke Rp14.037

loading...
Dolar AS Nunduk Jelang Data Tenaga Kerja, Rupiah Tegak ke Rp14.037
Rupiah menguat 31 poin atau 0,22% ke level R14,037 per USD. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus bergerak tegak terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Data Bloomberg, rupiah pada Jumat (6/12/2019) pulang gagah 31 poin atau 0,22% ke level R14,037 per USD, dibanding Kamis lalu di Rp14.068. Jumat ini, rupiah bergerak di Rp14.029-Rp14.042 per USD.

Penguatan rupiah juga terpantau di Yahoo Finance. Jumat petang ini, mata uang kecintaan kita menguat 25 poin atau 0,17% ke Rp14.035 per USD, berbanding Rp14.060 per USD pada Kamis lalu. Hari ini, rupiah diperdagangkan di Rp14.010-Rp14.090 per USD.

Rupiah pulang tegak memanfaatkan pelemahan dolar AS, dimana investor saat ini sedang menunggu data tenaga kerja AS yang bakal dirilis besok. Selama pekan ini, dolar AS berada di level terburuk sejak Oktober, akibat kegelisahan perdagangan.



Melansir dari Reuters, investor lebih memilih aset berlindung yang aman lainnya, yaitu yen Jepang dan franc Swiss. Hal ini karena investor cemas bahwa data tenaga kerja AS bulan November tidak sesuai dengan ekspektasi.

Jajak pendapat yang dilakukan Reuters, memperkirakan data tenaga kerja bulan November bertambah 180.000 orang. "Pasar saat ini berada dalam kondisi yang rapuh, antara dibawah 150.000 orang atau diatas 210.000 orang, itu membuat pasar bisa bereaksi signifikan," ujar Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney.

Indeks USD yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang lainnya, melemah ke 97,374, setelah pada awal pekan berada di 98,0. Seminggu ini, dolar AS turun 0,8% terhadap euro, menjadi USD1,1106 per euro pada Jumat ini. Yen Jepang juga menguat 0,8%, dimana akhir pekan ini berada di 108,68 yen per dolar AS.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak