alexametrics

BI: Kebijakan Trump Biang Kerok Ketidakpastian Ekonomi Global

loading...
BI: Kebijakan Trump Biang Kerok Ketidakpastian Ekonomi Global
Kebijakan Presiden AS Donald Trump dinilai menjadi salah satu sumber gejolak ekonomi global. Foto/Ilustrasi/Dok. SINDOnews
A+ A-
LABUAN BAJO - Gejolak ekonomi global diperkirakan masih akan terjadi di 2020. Hal ini dikarenakan meluasnya perang dagang yang dimulai antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Bank Indonesia mengatakan bahwa perang dagang telah menekan perdagangan dan perekonomian global. Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi Makro BI Endy Dwi Tjahjono menambahkan, penyebab ketidakpastian ekonomi global salah satunya adalah langkah kebijakan Presiden AS Donald Trump.

"Entah apa ini masalah timing atau strategi kita tahu yang jelas kondisinya begitu, trade deal mentah, dan mudah-mudahan Trump saja yang diganti, dia sumber utama pemicu global tak kondusif," ujar Endy di acara Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Labuan Bajo, NTT, Jakarta, Senin (9/12/2019).



Dia mengatakan, selain berselisih dengan China, Trump juga mengancam menaikkan tarif untuk barang-barang impor dari Perancis, Argentina, dan Brasil. Hal ini membuat ekonomi Eropa tertekan dan ketidakpastian global terus berlanjut.

"Ini kita perkirakan (pertumbuhan ekonomi global) seperti semula dan ini menurun dari 2018 yang tumbuh 3,6%. Ini cuma 3,0% ini juga sudah turun dari proyeksi semula yang mencapai 3,2%," jelasnya.

Mengantisipasi gejolak ekonomi global pada tahun depan, Endy mengatakan bahwa bank-bank sentral dunia umumnya mengambil kebijakan yang akomodatif, termasuk Bank Indonesia. Dengan demikian, kata dia, Indonesia lebih siap menghadapi risiko ekonomi global.

"Kebijakan moneter masih longgar, secara khusus, dampak perlambatan ekonomi di dua ekonomi terbesar dunia yakni AS dan China terhadap Indonesia dinilai tidak terlalu besar," imbuhnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak