alexametrics

IPO Start Up Kecil Hadapi Tantangan Lebih Besar

loading...
IPO Start Up Kecil Hadapi Tantangan Lebih Besar
Meski punya peluang bagus, IPO perusahaan rintisan juga tak lepas dari pengaruh ekonomi global. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Sejumlah analis menilai peluang perusahaan rintisan (start up) untuk mendapatkan permodalan dari pasar modal cukup besar. Hanya saja untuk melakukan aksi korporasi tersebut perusahaan start up menghadapi tantangan cukup besar. Akan tetapi, bagi perusahaan start up yang memiliki pasar menjanjikan, hal tersebut justru bisa menjadi kekuatan.

Apalagi jika bisnis yang digarap sesuai dengan kebutuhan market saat ini terutama bagi pasr kalangan milenial. Direktur Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, saat ini otoritas bursa membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbagai perusahaan, termasuk perusahaan start up, dalam mendapatkan dana segar melalui IPO.

“Biasanya jika go public maka laporan keuangan harus diaudit, menunjuk notaris, lalu konsultan hukum, dan menyiapkan dokumen tentang prosedur pendaftaran hingga underwriter. Ini tentu jadi masalah bagi perusahaan tertentu, karena biayanya yang lumayan tinggi untuk melakukan go public,” kata Hans dalam keterangan tertulisnya kemarin.



Hans mencontohkan, perusahaan dengan skala start up kecil bernilai Rp10 miliar dan start up bernilai Rp300 miliar, memiliki skema kerja yang sama namun pendanaan yang didapatkan bisa berbeda. Hal ini menjadi tantangan tersendiri sehingga harus dapat dipahami dari sisi regulasinya.

Meski demikian, Hans melihat perusahaan start up kecil ke depannya dapat sukses dilihat dari bisnis yang dijalankannya. Dia mencontohkan start up bidang properti co-living seperti PT Hoppor International (Kamar Keluarga) yang trennya mengalami perkembangan pesat. Model bisnis tersebut dinilai cukup diminati kaum milenial yang membutuhkan tempat tinggal sementara.

“Inovasi perusahaan start up ini bagus artinya harus kita cerna dan lihat sustainability-nya dan juga demand-nya. Masih sangat rasional kalau perusahaan start up sektor ini melantai di bursa karena permintaan dan tren hunian menuju ke arah sana,” terang Hans. Hal senada disampaikan Senior Advisor CSA Research Institute Reza Priyambada.

Menurutnya, perusahaan yang berencana IPO tidak perlu khawatir selama mereka merespons kebutuhan pasar. “Perusahaan start up co-living harus melihat potensi dari target pasar yang mereka bidik dan seberapa lama tren ini bisa bertahan. Antisipasinya adalah dengan punya banyak model bisnis yang menyasar milenial awal, kemudian menyasar level eksekutif muda, akan lebih variatif dan stabil,” jelasnya.

Sekadar diketahui, PT Hoppor International (Kamar Keluarga) termasuk dalam daftar 17 perusahaan yang akan menggelar IPO di Bursa Efek Indonesia sehingga diharapkan memberikan warna baru bagi para investor. CEO Kamar Keluarga Charles Kwok menerangkan, saat ini Kamar Keluarga memiliki lima pilar bisnis yang menjangkau kebutuhan investor.

Pertama yaitu pilar bisnis KK Operator, yang fokus pada bisnis penyewaan tempat tinggal bagi kaum pekerja milenial. Kedua bisnis KK Development, yang menyasar kaum milenial yang ingin memiliki hunian sendiri dengan harga terjangkau.

“Kami juga memiliki tiga pilar bisnis lain yang dapat memenuhi kebutuhan pasar yang ingin berinvestasi dengan menjadi mitra kami yakni KK BOT (build operate transfer), KK Aset, dan KK Vertikal yang dapat membantu para mitra untuk mencari, membangun dan mengelola properti yang dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar,” kata Charles.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak