alexametrics

Ekonom Sebut ULN Masih Aman, BI Akan Nyemprit Bila di Luar Kendali

loading...
Ekonom Sebut ULN Masih Aman, BI Akan Nyemprit Bila di Luar Kendali
Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh ekonom masih aman terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Foto/Ilustrasi
A+ A-
LABUAN BAJO - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh ekonom masih aman terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pasalnya, posisi ULN Indonesia secara persentase masih di bawah 60 persen.

"Overall seingat saya, rasio persentase utang luar negeri kita terhadap PDB itu 29 persen. Which is, ini masih bagus. Karena treshold-nya 60 persen. Suatu negara diberi toleransi untuk boleh utang ke luar negeri maksimal 60 persen PDB total negara," kata Ryan ditemui saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia, Labuan Bajo, NTT, Selasa (10/12/2019).

Dari segi nominal, lanjut dia, memang tergolong besar secara nominal dimana tercatat utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan III/2019 sebesar USD395,6 miliar (sekitar Rp5.538,6 triliun). Dengan rincian yang terdiri dari utang luar negeri publik USD19,7,1 miliar dan utang luar negeri swasta termasuk BUMN USD198,5 miliar.



Namun, jika dibandingkan penghasilan yang didapatkan justru lebih besar dibandingkan utang yang dilakukan oleh pemerintah, bank sentral, dan swasta. "Indonesia sekarang posisinya baru 29 persen. Berarti masih oke. Kalau melihat rupiahnya kelihatan gede. Tapi Rp 5.000 triliun utang yang bisa 10 tahun, bisa 20 tahun dalam satu tempo. Sementara, revenue kita Rp 15.000 triliun," ucapnya.

Secara perhitungan, bila pendapatan suatu perusahaan mencapai Rp 15.000 triliun, sementara utangnya sebesar 29%, maka dipastikan negara bisa membayarnya. "No worries! Tidak ada yang perlu diperhatikan dengan posisi ULN kita. Apalagi BI ngawal terus kalau ada hal yang di luar kendali, BI pasti nyemprit (beri peringatan)," katanya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak