alexametrics

Kementan Akselerasi Ekspor Tujuh Komoditas Perkebunan

loading...
Kementan Akselerasi Ekspor Tujuh Komoditas Perkebunan
Dirjen Perkebunan Kasdi Subagyono (tiga dari kiri) bersama para mantan Dirjen Perkebunan pada Peringatan Hari Perkebunan di Malang, Jawa Timur, Selasa (10/12). Foto/Dok.Kementan
A+ A-
MALANG - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah menargetkan peningkatan ekspor pertanian hingga tiga kali lipat melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Khusus untuk subsektor perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) akan fokus pada tujuh komoditas.

"Pak Mentan meminta kami menyeleksi komoditas yang akan menjadi fokus untuk peningkatan ekspor perkebunan. Dari 137 komoditas kami seleksi menjadi 10 komoditas, lalu kami pilih lagi hingga menjadi tujuh komoditas, yaitu kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, dan vanili. Ketujuh komoditas ini dipilih karena dinilai paling strategis untuk diakselerasi," ungkap Dirjen Perkebunan Kasdi Soebagyono saat membuka acara peringatan Hari Perkebunan 2019, di Malang, Selasa (10/12/2019).

Menurut Kasdi, pengembangan komoditas perkebunan strategis tersebut akan dikoordinasikan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida). Dalam pelaksanaan program ini, Kementan akan merangkul berbagai pihak, termasuk BUMN dan swasta.



"Sesuai dengan arahan pak Menteri, tidak boleh ada yang bekerja sendiri. Kalau mau pertanian kita hebat, semua pihak harus bersinergi. Begitupun dengan korporasi petani yang saat ini kita bangun, petani harus ada mitra di sisinya. Swasta dan BUMN harus berperan sebagai mitra petani dan turut membantu petani agar terangkat pendapatan dan kesejahteraannya," ucapnya.

Khusus untuk pembiayaan, Kementan tidak hanya akan mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Kasdi menyebutkan pihaknya akan menggandeng perbankan.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBN dan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). APBN dan APBD hanya stimulan. Kita butuh instrumen perbankan untuk pembiayaan pertanian, termasuk perkebunan," terang Kasdi.

Salah satu instrumen perbankan yang akan diperkuat adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pertanian disebut akan mendapatkan alokasi sebesar Rp50 triliun. "Kami minta dinas perkebunan setiap daerah mengidentifikasi kebutuhan KUR-nya. Segera disampaikan kepada kami agar bisa dikonkritkan," seru Kasdi.

Subsektor perkebunan hingga saat ini salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan perekonomian nasional. Jika dilihat dari sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB) pertanian, komoditas perkebunan berkontribusi sebesar 34% atau senilai Rp429,68 triliun. Angka ini lebih besar bila dibandingkan dengan kontribusi minyak dan gas terhadap PDB nasional yang hanya Rp369,35 triliun.

Meski kinerja subsektor perkebunan masih sangat baik, Kasdi menegaskan pihaknya tidak akan terlena. Pemerintah akan terus hadir di tengah petani. Apalagi 70% perkebunan Indonesia adalah perkebunan rakyat.

"Kita akan membangun perkebunan maju, mandiri, dan modern. Teman-teman swasta mungkin sudah mewujudkan itu. Tapi perkebunan rakyat belum. Untuk itu, kita akan dorong agar perkebunan rakyat juga bisa maju, mandiri, dan modern," tandasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak