alexametrics

Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Digitalisasi Pertanian Wajib Didorong

loading...
Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Digitalisasi Pertanian Wajib Didorong
Digitalisasi pertanian menjadi sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan masa depan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - International Fund For Agricultural Development (IFAD) mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan digitalisasi sistem pertanian di dalam negeri. Digitalisasi pertanian diharapkan semakin memudahkan sekaligus makin menyejahterakan petani Indonesia.

"Digitalisasi pertanian telah menjadi kebutuhan," ujar Chairman of IFAD Iskandar Andi Nuhung di acara diskusi Pembangunan Pertanian di Era 4.0, di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Menurut dia, bentuk digitalisasi sistem pertanian beragam dan terus dikembangkan. Beberapa aspek digitalisasi pertanian antara lain penerapan teknologi pertanian yang mutakhir, penerapan aplikasi pertanian hingga pengelolaan sistem data pertanian di sebuah wilayah.

Era digital, lanjut dia, juga menelurkan banyak aplikasi baru di sektor pertanian, seperti transaksi penjualan hasil pertanian secara langsung kepada pembeli melalui aplikasi. Saat ini, sambung dia, digitalisasi yang juga tengah dikembangkan adalah membangun platform yang berisi data petani, luas lahan hingga rencana tanam serta data lainnya.

"Dengan platform tersebut maka dapat dideteksi berbagai macam kelemahan di lapangan, sehingga cepat mendapatkan solusi untuk meningkatkan produk tani," jelasnya.

Senada dengannya, Perwakilan Industri Perlindungan Tanaman dan Perbenihan Midzon Johannis menyampaikan bahwa digitalisasi pertanian memang merupakan tuntutan zaman guna meningkatkan produksi pertanian. Apalagi, imbuh dia, berdasarkan laporan Asia Food Challenge Report, negara-negara di Benua Asia bakal mengalami krisis pangan dalam 10 tahun ke depan.

Tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini antara lain produktivitas yang terus menurun. Dia mencontohkan produksi jagung yang hanya mencapai rata-rata 5,7 ton per hektare. Sementara di Amerika Serikat dengan luas lahan yang sama bisa mencapai rata-rata 10,5 ton.

Di sisi lain, mayoritas petani di Indonesia adalah petani gurem dengan luas lahan garapan kurang dari 0,5 hektare. Jumlahnya mencapai sekitar 57% dari total petani yang ada di negara ini.

"Tantangan yang dihadapi petani memang tidak mudah. Apalagi jumlah penduduk kita terus bertambah, sehingga kebutuhannya pun terus meningkat. Sebab itu perlu terobosan termasuk menerapkan digitalisasi dibarengi dengan membangun SDM yang mumpuni," tandasnya.
(fjo)
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak