Utang 26 Negara Termiskin di Dunia Makin Parah, Terburuk sejak 2006

Senin, 14 Oktober 2024 - 20:26 WIB
loading...
Utang 26 Negara Termiskin...
Para penambang emas sedang bekerja, di Kamituga, Kivu Selatan, Kongo Timur. FOTO/AP Photo
A A A
JAKARTA - Sebanyak 26 negara termiskin di dunia, yang merupakan rumah bagi 40% dari jumlah penduduk yang paling banyak dilanda kemiskinan, memiliki lebih banyak utang dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya sejak 2006 dan semakin rentan terhadap bencana alam dan goncangan-goncangan lainnya, demikian sebuah laporan terbaru dari Bank Dunia, Minggu (13/10).

Laporan tersebut menemukan bahwa negara-negara ini rata-rata lebih miskin saat ini dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19, bahkan ketika seluruh dunia sebagian besar telah pulih dari Covid-19 dan melanjutkan lintasan pertumbuhannya.

Dirilis seminggu sebelum pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, laporan ini menegaskan kemunduran besar dalam upaya memberantas kemiskinan ekstrem dan menggarisbawahi upaya Bank Dunia tahun ini untuk menggalang dana sebesar USD100 miliar untuk mengisi kembali dana pembiayaan bagi negara-negara termiskin di dunia, International Development Association (IDA).

Baca Juga: Terungkap, AS Tak Berdaya Hentikan Drone Misterius di Atas Markas Jet Siluman F-22 Raptor

Adapun 26 negara termiskin yang diteliti, yang memiliki pendapatan per kapita tahunan kurang dari USD1.145, semakin bergantung pada hibah IDA dan utang dengan suku bunga mendekati nol, karena sebagian besar pembiayaan pasar telah mengering, demikian kata Bank Dunia.

Rasio utang terhadap PDB rata-rata 72% berada pada titik tertinggi dalam 18 tahun terakhir, dan separuh dari kelompok ini berada dalam kesulitan utang atau berisiko tinggi. Sebagian besar negara-negara dalam penelitian ini berada di sub-Sahara Afrika, dari Ethiopia sampai Chad dan Kongo, namun daftar ini juga mencakup Afghanistan dan Yaman.

Dua pertiga dari 26 negara termiskin berada dalam konflik bersenjata, atau mengalami kesulitan menjaga ketertiban karena kerapuhan institusional dan sosial, yang menghambat investasi asing, dan hampir semua komoditas ekspor, membuat mereka sering mengalami siklus boom dan bust, demikian laporan tersebut mengatakan.

"Pada saat sebagian besar dunia mundur dari negara-negara termiskin, IDA telah menjadi penyelamat mereka," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill dalam sebuah pernyataan, dikutip dari The Edge Malaysia, Senin (14/10/2024).

"Selama lima tahun terakhir, IDA telah mengucurkan sebagian besar sumber daya keuangannya ke dalam 26 negara berpenghasilan rendah membuat mereka tetap bertahan melewati kemunduran bersejarah yang mereka alami."

IDA biasanya diisi ulang setiap tiga tahun dengan kontribusi dari negara-negara pemegang saham Bank Dunia. IDA berhasil mengumpulkan rekor USD93 miliar pada 2021 dan Presiden Bank Dunia, Ajay Banga menargetkan untuk melampaui rekor tersebut dengan lebih dari USD100 miliar dalam bentuk janji pada tanggal 6 Desember.

Bencana alam juga telah menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi negara-negara ini selama dekade terakhir. Antara tahun 2011 dan 2023, bencana alam dikaitkan dengan kerugian tahunan rata-rata sebesar 2% dari PDB, lima kali lipat dari rata-rata di antara negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah, yang menunjukkan perlunya investasi yang jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Rusia Siapkan Sistem Penghancur Dolar AS, Anggota BRICS Bisa Hemat Rp234 Triliun

Laporan ini juga merekomendasikan agar negara-negara ini, yang memiliki sektor informal yang besar yang beroperasi di luar sistem pajak mereka, melakukan lebih banyak hal untuk membantu diri mereka sendiri. Hal ini termasuk meningkatkan pengumpulan pajak dengan menyederhanakan pendaftaran wajib pajak dan administrasi perpajakan, serta meningkatkan efisiensi belanja publik.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Gugatan UU PDP Ditolak...
Gugatan UU PDP Ditolak MK, Negara Wajib Awasi Transfer Data Pribadi
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Peran Yuan China Dalam...
Peran Yuan China Dalam Tata Keuangan Dunia Baru
Rekomendasi
HUT ke-499 DKI, Parade...
HUT ke-499 DKI, Parade Mobil Hias hingga Tarian Khas Jakarta Meriahkan Jakfestival di Ancol
Aturan Perjalanan Piala...
Aturan Perjalanan Piala Dunia 2026 Dinilai Tak Adil, Iran Ngadu ke FIFA
Deretan Fakta Menarik...
Deretan Fakta Menarik Usai Belanda Hajar Swedia 5-1
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved