alexametrics

Rizal Ramli Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Kurang dari 5%

loading...
Rizal Ramli Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Kurang dari 5%
Ekonom senior, Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 tidak akan mencapai target seperti yang diproyeksikan yakni 5,3%. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Ekonom senior, Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 tidak akan mencapai target seperti yang diproyeksikan tim ekonomi pemerintah yakni sebesar 5,3%. Bahkan menurut mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 bisa turun drastis hingga 4%.

“Saya prediksi tahun depan akan lebih jelek dari tahun ini. Pertumbuhan ekonomi hanya 4%. Sederhana saja, sekarang ini pertumbuhan kredit hanya 7%. Kalau pertumbuhan ekonominya mau naik ke 6% saja, pertumbuhan kreditnya harus 15% sampai 17%. Bagaimana mau mendorong ekonomi lebih hebat kalau pertumbuhan kreditnya hanya segitu, belum lagi daya beli rakyat yang menurun,” ujar mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (20/12/2019).

Prediksi Rizal Ramli tersebut juga didasarkan pada indikator makro yang cenderung semakin merosot hingga Kuarta III-2019, antara lain, kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar USD7,6 miliar. Begitu juga dengan neraca perdagangan yang mengalami defisit USD3,12 miliar. “Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut sampai tahun depan,” ungkap Rizal Ramli.



Rizal Ramli juga menambahkan, saat ini sekitar 24% perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk kategori zombie company. Maksudnya adalah perusahaan yang masih berjalan, tetapi tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membayar utang. Perusahaan tersebut hanya bisa bertahan apabila dilakukan restrukturisasi kredit. “Tahun depan, saya prediksi zombie company akan mencapai sepertiga dari seluruh perusahaan yang ada di BEI,” tutur Rizal.

Bila tak ingin mengalami krisis ekonomi, pemerintah menurutnya harus mampu membalikkan kondisi yang terjadi saat ini. Sayangnya Rizal melihat selama ini pemerintah menggunakan kebijakan makro ekonomi yang super konservatif, yaitu austerity atau pengetatan. “Rumus IMF dan Bank Dunia yang dilakukan ini puluhan kali sudah gagal dijalankan di Amerika Latin, di Yunani. Kalau kondisi ekonominya sedang melambat, kemudian dilakukan pengetatan, diuber pajaknya, ya makin nyungsep (kondisi ekonomi),” kata Rizal.

Sebaliknya, yang harus dilakukan pemerintah menurut Rizal adalah dengan mendorong daya beli kelompok menengah ke bawah. “Kalau ekonominya sedang melambat, harusnya pajaknya diturunin agar ada stimulan. Nanti kalau sudah membaik kondisinya, baru diuber lagi pajaknya. Misalnya, saat saya menjadi Menko bidang ekonomi di era Gus Dur, saya naikin gaji pegawai negeri sampai 125%. Begitu dapat uang, 99%-nya dibelanjaan, sehingga sektor riil langsung hidup," terang dia

"Selain itu, multiplier effect-nya juga besar sekali. Sementara kalau kita kasih ke orang kaya, uangnya malah disimpan di luar dan tidak dibelanjakan, sehingga tidak ada efeknya. Jadi dalam situasi begini, yang harus dipompa itu ekonomi menengah ke bawah. Bukan malah digencet dengan berbagai macam pajak,” pungkas Rizal Ramli.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak