alexametrics

Penurunan Penumpang Domestik Tak Berdampak ke Pendapatan Airnav

loading...
Penurunan Penumpang Domestik Tak Berdampak ke Pendapatan Airnav
Airnav Indonesia menyatakan penurunan penumpang domestik tidak berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Perum LPPNPI atau Airnav Indonesia menyatakan penurunan penumpang domestik tidak berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Direktur Utama Airnav Indonesia Novy Riyanto mengatakan, penurunan tersebut tidak berdampak terhadap kinerja keuangan sebab sumber pendapatan terbesar masih ada di sektor pelayanan penerbangan internasional.

“Seperti kita ketahui dalam setahun terakhir ada kenaikan tarif tiket yang sangat dirasakan langsung dampaknya okeh maskapai maupun pengelola bandara. Untuk Airnav pada semua layanan bandara dampaknya tidak terlalu besar,” ungkapnya pada paparan program 2019 di Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Sepanjang 2019 ini, trafik penerbangan domestik turun lebih dari 18% namun internasional naik 5%. Artinya, tidak mempengaruhi revenue AirNav Indonesia. "Namun yang jauh lebih penting bagi kami adalah keselamatan penerbangan terus membaik, angka kecelakaan menurun jauh," paparnya.



Dia menyebutkan, 70% pendapatan AirNav Indonesia bersumber dari penerbangan internasional. Perum ini juga mencatat revenue hingga Desember 2019 sebesar Rp3,7 triliun, naik dari tahun 2018 yang sebesar Rp3,3 trillun.

Sedangkan laba tahun ini tercatat Rp479 miliar atau naik siginifikan dibanding periode yang sama 2018 sebesar Rp206 miliar. Namun di 2020 AirNav Indonesia mematok pertumbuhan produksi domestik sebesar 2% atau lebih rendah dari 2019 sebesar 5%. Sedangkan pertumbuhan produksi internasional 4%, juga lebih rendah dari tahun ini sebesar 5%.

Dalam paparannya Novy juga menjelaskan soal jumlah perangkat navigasi yang telah disiapkan selama 2019 sebanyak 3.144 atau lebih besar dibanding 2018 yang hanya tercatat 3.097.

Dalam meningkatkan kualitas SDM, manajemen Perum AirNav Indonesia juga menyiapkan simulator tower yang ditempatkan di Cengkareng, Surabaya, Bali, Makassar dan Kualanamu.

Sementara itu, Direktur Operasi AirNav Indonesia Mokhammad Khatim menambahkan, soal program investasi di 2020 masih bertumpu di Jawa dan Sumatera. Rinciannya, untuk Jawa nilai investasi yang dialokasikan sebesar Rp1.340 triliun dengan 36 program. Sumatera 33 program dengan nilai investasi Rp213,899 miliar.

Selanjutnya Kalimantan Rp195 miliar, diikuti Papua sebesar Rp173, 648 miliar dengan 29 program, Sulawesi Rp103,565 miliar dan Maluku Rp42,705 miliar. "Investasi ini berupa pengadaan alat maupun updet peralatan navigasi berdasarkan perkembangan kebutuhan di bandara-bandara di Indonesia,” pungkasnya.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak