alexametrics

Potensi Industri untuk Ekspor Harus Dimaksimalkan

loading...
Potensi Industri untuk Ekspor Harus Dimaksimalkan
Pelaku industri nasional masih memiliki potensi untuk melakukan ekspor dengan memanfaatkan celah pasar global. Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pelaku industri nasional masih memiliki potensi untuk melakukan ekspor dengan memanfaatkan celah pasar global. VP Riset Industrial dan Regional Bank Mandiri Dendi menilai untuk tahun 2020 industri orientasi ekspor masih memiliki kesempatan dengan memanfaatkan celah kondisi global.

Industri yang berorientasi ekspor mendapat momentum untuk tumbuh dengan memanfaatkan dampak positif perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Peluang pasar di AS terbuka khususnya mengisi produk yang sebelumnya dipasok China. “Jadi ada peluang pasar di AS karena produk China terhambat masuk akibat dikenakan tarif. Contohnya, garmen, alas kaki dan furnitur,” ujar Dendi di Jakarta, kemarin.

Dia juga memproyeksikan sektor industri yang dapat tumbuh bagus secara umum yang berorientasi pada pasar domestik. Dirinya mencontohkan beberapa di antaranya adalah industri makanan dan minuman.



“Selain itu industri yang mungkin juga tumbuh bagus adalah industri yang terkait dengan program hilirisasi terutama nikel. Dengan penerapan kebijakan larangan ekspor barang mentah maka ekspor produk olahan bahan tambang akan mulai terlihat ada peningkatan,” jelasnya.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana memberikan proyeksi untuk pasar global. Salah satu yang menjadi fokus utama pasar masih seputar perkembangan konflik dagang antara AS dan China dan upaya pemerintah serta bank sentral lewat stimulus fiskal dan kebijakan moneter akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

“Laporan terkini menunjukkan bahwa data pertumbuhan ekonomi dan sektor tenaga kerja AS masih tetap positif,” ujar Krizia. Sedangkan dari Eropa, meski ekonomi masih berada dalam fase konsolidasi, namun mulai ada sinyal stabilisasi. Dimana sektor manufaktur Euro Zone di bulan November meningkat ke level 46,9 dari bulan sebelumnya 45,9 yang ditopang oleh perbaikan dari Jerman dan Perancis.

Sinyal stabilisasi untuk sektor manufaktur juga terlihat di China. Sektor manufaktur di China untuk November, terlihat naik ke level 50,2 yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2019. “Harapannya dapat tercipta kesepakatan dagang dan masih ada ruang bagi bank sentral di kawasan Asia dan negara berkembang. Kemudian dapat menurunkan suku bunga, sehingga mendorong sentimen investasi untuk pergerakan pasar finansial bagi di Asia maupun negara berkembang,” paparnya.

Menurut dia, pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan secara gradual. Diharapkan pemulihan ekonomi terjadi seiring meredanya ketegangan antara AS dan China. “Pelonggaran fiskal tidak terlalu agresif, mengingat defisit fiskal dibatasi di bawah 3%. Ini menyebabkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi juga relatif terbatas,” ujarnya.
Dia menyebutkan salah satu tantangan bagi ekonomi Indonesia ke depannya masih seputar defisit pada neraca transaksi berjalan. Khususnya pada saat ini ketika penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI) belum bisa menutupi atau membiayai defisit pada neraca berjalan ini.

Peningkatan daya saing, khususnya di sektor non komoditas, menjadi sangat krusial untuk meningkatkan investasi. Ini yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak