alexametrics

Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas

loading...
Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas
Yuli Sulastri sedang merawat tanaman organik di Kampung Berseri Astra Lengkong Kulon, Tangerang. Foto/SINDO/Anton Chrisbiyanto
A+ A-
BERADA di dalam kepungan modernisasi tak membuat warga sebuah desa menjadi terbelakang. Hal itulah yang dibuktikan oleh warga Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Penduduk di desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Sawah itu seolah tak mau terlibas oleh perkembangan zaman.

Yuyun (35) terlihat sibuk melayani pembeli bakso yang dijualnya. Tangannya tampak cekatan meracik bumbu, memasukkan mie ke dalam mangkok dan menuangkan kuah bakso dari panci. Usaha itu sudah dilakoninya selama lima tahun terakhir.

Sehari, dia bisa menjual 100 mangkok bakso ke warga sekitar. Rezeki yang didapatnya bakal bertambah saat proyek perumahan salah satu developer perumahan di Serpong, di sekitar Kampung Sawah sedang berlangsung. Biasanya, para pekerja melahap bakso yang dijualnya saat jam istirahat.



Sayangnya, menjelang tutup tahun, banyak pekerja proyek yang libur. Alhasil, pundi-pundi yang dikumpulkan Yuyun tak sebanyak hari-hari biasa. Meski tidak pula membuat panci pendapatannya kering kerontang. "Terkadang juga sepi pembeli. Tapi selalu ada," ujarnya saat ditemui di Kampung Sawah, Senin (30/12/2019).

Bagi Yuyun, Kampung Sawah memiliki kenangan tersendiri. Disinilah dia bertemu dengan suaminya, Yadi (45). Meskipun berasal dari Lampung, namun Yadi sudah merasa diahirkan di Kampung Sawah. Lima tahun lalu, Yadi masih memiliki pekerjaan sebagai buruh tani di desa itu. Namun, seiring dengan habisnya lahan persawahan, Yadi pun memutuskan untuk bekerja bersama istrinya.

"Sekitar tahun 2014 berhenti ke sawah karena lahannya sudah tidak ada. Sekarang kegiatannya jualan. Sayur dan cabai, cabai rawit yang pedas," ungkapnya terkekeh. Selain menjual Bakso, Yuyun dan Yadi juga menjual bahan-bahan kebutuhan pokok lainnya seperti sayuran, ikan, dan daging. Untuk menopang ekonomi keluarga, keduanya juga menyewakan sebagian rumah yang dimilikinya bagi para pekerja di proyek perumahan.

Wanita yang lahir dan menghabiskan seluruh waktunya di Kampung Sawah itu tak menyangka desa yang dulunya merupakan hamparan sawah yang luas kini berubah menjadi kota mandiri yang berisi hunian kelas menengah dengan beragam fasilitas modern. Lima tahun lalu, hembusan angin yang sejuk dan semerbak wangi padi masih melekat di penciuman warga desa ini. Sekarang, Kampung Sawah berada di tengah-tengah permukiman gedongan.

Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas


Warga desa Kampung Sawah sering berkelakar dengan menyebut desanya sebagai Kampung Perumahan bukan lagi Kampung Sawah. Desa ini dikelilingi tembok beton sebagai pembatas dengan kawasan perumahan. "Warga sering bercanda dan menyebutnya sebagai tembok Berlin," kata Yuli Sulastri, kader Posyandu Lengkong Kulon.

Kampung Sawah dihuni sekitar 570 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 1.950-an jiwa. Meski berada di tengah-tengah permukiman mewah, warga desa ini memiliki semangat yang tinggi untuk maju dan tetap eksis di tengah modernisasi kawasan Serpong yang sangat masif.

Tingkat kemiskinan di Kabupaten Tangerang memang tergolong tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menyebutkan, jumlah penduduk di wilayah tersebut, yang hidup di bawah garis kemiskinan jumlahnya cukup besar. Pada 2018 saja misalnya, dari 3.477.495 jiwa penduduk, sebanyak 923.405 jiwa berada di bawah garis kemiskinan.

Pemkab Tangerang pun terus berupaya mengurangi angka kemiskinan itu. Diantaranya melalui Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan non-tunai (BPNT), bantuan rehab rumah, dan bantuan permodalan. Namun, warga Kampung Sawah tak mau sekadar berpangku tangan.

Berbekal semangat Sabilulungan (Gotong Royong) mereka bahu membahu meningkatkan taraf hidupnya. "Dulu warga desa kesulitan untuk mengembangkan potensinya. Namun sejak dua tahun terakhir, perlahan semua berubah menjadi lebih baik," tegas Yuli.

Dengan semangat toleransi dan menjunjung tinggi keberagaman, warga Kampung Sawah bahu membahu saling membantu untuk mengentaskan kehidupan warga dari keterbelakangan. "Kami bekerja bersama-sama, berkolaborasi. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju," paparnya.

Kesadaran warga Kampung Sawah yang menyandang status Kampung Berseri Astra (KBA) untuk mencapai kehidupan yang lebih baik terus meningkat. Dari sisi kewirausahaan misalnya, jika di masa lalu warga, khususnya yang berusia muda, enggan untuk menggeluti budidaya tanaman organik yang memiliki nilai ekonomis, namun sejak dua tahun terakhir antusiasme para generasi milenial di desa itu meningkat drastis.

Yuli menyebutkan, banyak remaja yang berstatus siswa dan mahasiswa mulai peduli terhadap perkembangan desanya. "Kesadaran mereka terus tumbuh. Banyak yang terlibat dalam pengembangan usaha tanaman organik," ungkapnya.

Alhasil, tanaman organik yang dibudidayakan kini sudah mendatangkan nilai ekonomis dan menjadi salah satu pundi-pundi rupiah bagi warga desa. "Bibit-nya pun sudah ada yang membeli. Per bibit laku Rp10 ribu," ungkapnya.

Yuli mengungkapkan, dengan memanfaatkan lahan yang terbatas, warga desa antusias untuk membudidayakan beragam tanaman organik yang bisa dikonsumsi itu. Ekosistem kewirausahaan di desa itu sudah berjalan baik dan hasil dari semua penjualan dikembalikan lagi kepada masyarakat.

Bagi Agung Hidayat (20) membudidayakan tanaman organik bukanlah pekerjaan sepele. Meskipun anak seusianya kini lebih banyak berurusan dengan dunia teknologi dan travelling, Agung justru menganggap apa yang dilakukan bersama warga lain seusianya adalah pekerjaan yang keren.

"Kami harus mulai tanamkan semangat berkarya sejak usia dini. Jika sibuk travelling siapa yang akan meneruskan ilmu yang telah diajarkan oleh senior kami di desa ini. Apalagi generasi sekarang banyak yang tidak tahu cara bertani," ucapnya.

Para remaja Kampung Sawah juga sangat bersemangat mengikuti beragam pelatihan. Dari pelatihan kewirausahaan hingga pelatihan pemasaran. "Yang senior sudah menularkan ilmunya. Sekarang setiap pagi dan sore teman-teman yang SMA mapun mahasiswa bergantian untuk merawat budidaya tanaman organik ini," ungkap Agung.

Untuk pengembangan kebun organik, digunakan kompos organik yang berasal dari limbah basah yang diolah sendiri agar pupuk yang digunakan ramah lingkungan.

Adi Hermawan tak mau kalah dengan Agung, dia menggeluti kewirausahaan dengan menghasilkan karya kerajinan dari limbah sampah. Usai mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Astra di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Adi merasa yakin bahwa sampah bisa memberikan berkah bagi warga Kampung Sawah.

"Sudah ada produk yang dihasilkan dan dijual ke beberapa pihak. Kami terus melakukan inovasi agar sampah-sampah yang organik maupun non organik mampu memberikan nilai ekonomis yang maksimal," tegasnya.

Pada tahun depan, dia dan para pengurus Karang Taruna akan melakukan inovasi memanfaatkan sampah menjadi bio gas. Sedangkan untuk sampah organik akan diproduksi menjadi pupuk dalam skala besar sehingga bisa mendatangkan uang yang lebih besar pula.

"Selama ini warga menggunakan elpiji 3 kilogram. Jika menggunakan bio gas tentu akan lebih murah. Sehingga mengurangi beban pengeluaran warga untuk energi," paparnya.

Semangat membara generasi muda Kampung Sawah mendapat dukungan dari Benny Rustandi, salah satu tokoh masyarakat desa itu. Benny menggunakan lahannya untuk membangun workshop sebagai pusat kewirausahaan.

"Sudah ada hasilnya, sudah banyak orderan bangku dan kursi dari kayu. Semangat dan skill yang dimiliki oleh anak-anak dari hasil pelatihan semakin tampak hasilnya," tegasnya.

Semangat Sabilulungan dan Toleransi Membuat Hidup Tak Lagi Pedas


Menurut Benny, Kampung Sawah kini menjelma menjadi kawasan yang bersih, sehat, dan produktif. Tak hanya itu, kualitas pendidikan di kawasan ini juga semakin membaik. Workshop yang dibangun itu, selain digunakan sebagai knowledge center juga digunakan sebagai tempat pelatihan ketrampilan, pengelolaan lingkungan, edukasi kesehatan dan pendidikan.

"Workhsop juga sebagai tempat berbagi ilmu dari mereka-mereka yang sudah ikut pelatihan di Sunter. Kami akan terus menebarkan semangat berinovasi kepada warga agar naik kelas," tuturnya.

Benny menilai, dengan kebersamaan dalam bingkai keberagaman yang sudah terjalin rapih dengan tradisi yang kuat, dirinya optimistis Kampung Sawah bakal semakin sejahtera.

Raih Banyak Penghargaan dan Siapkan Generasi Unggul
Kampung Sawah sudah maju dalam hal pengelolaan lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Angka putus sekolah juga rendah. Hal ini lantaran warga desa itu semakin sadar pentingnya pendidikan bagi anak-anak.

Termasuk kesadaran untuk meningkatkan literasi kepada anak-anak sejak usia dini. Gerobak Baca menjadi salah satu alat untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak di desa ini. Setiap Sabtu dan Minggu, dibuka program taman baca yang diselingi dengan beragam kegiatan.

Gerobak Baca itu dikelola dengan melibatkan anak-anak usia sekolah. Donasi buku terus mengalir deras, sehingga anak-anak usia dini semakin bersemangat untuk membaca.

Bagi Lia Lusiana (32) meningkatkan literasi anak sangat penting karena mereka adalah generasi penerus. "Meski harus bersaing dengan gadget, namun buku berhasil menarik minat anak-anak usia sekolah di desa ini," tuturnya.

Selain itu, untuk meningkatkan kepedulian akan-anak Kampung Sawah terhadap lingkungan dan kebersihan, di desa ini juga dikembangkan kawasan ekowisata. Nantinya, anak-anak akan melihat dan belajar secara langsung tentang cara bercocok tanam yang baik dan benar dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Termasuk edukasi mengenai pemanfaatan pupuk organik.

Yang membuat warga desa itu boleh berbangga, yakni keberhasilan Kampung Sawah sebagai desa yang bisa mengatasi masalah stunting. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Salah satu akibatnya, seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), Indonesia ada di urutan kelima jumlah anak dengan kondisi stunting.

Di Kabupaten Tangerang sendiri, dari catatan Dinas Kesehatan Pemkab Tangerang, prevalensi stunting mencapai 29,6%. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Pemkab Tangerang Asep Jatnika mengatakan, penyebab stunting paling dominan adalah karena lingkungan yang tidak sehat. Perilaku yang kurang baik, misalnya mandi di air irigasi, buang ari besar (BAB) sembarangan, dan mengkonsumsi air minum yang terkontaminasi menjadi penyebabnya.

Pemkab Tangerang sendiri telah menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 22 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk mencegah stunting.

Pemkab Tangerang, dengan melibatkan masyarakat, terus berupaya dalam memenuhi kesehatan masyarakat mulai dari 1.000 hari kehidupan atau mulai bayi masih di dalam kandungan.Harapannya, prevalensi stunting terus turun.

Menurut Lia, dengan beragam inovasi yang dilakukan melalui Posyandu, kesadaran masyarakat Kampung Sawah terhadap pentingnya gizi bagi anak meningkat tajam. Partisipasi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ke Posyandu sudah meningkat ke angka 60% dari sebelumnya yang hanya 40%. Juga angka ibu yang memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sudah mencapai angka 75%. Angka itu maksimal, karena 25% ibu tak bisa memberikan ASI eksklusif karena kondisi kelenjar susu yang tidak normal. "Sehingga kami mengadakan program donor ASI dan inovasi-inovasi lain untuk pencegahan stunting," papar Lia.

Kerja keras dan kolaborasi yang dilakukan oleh berbagai pihak di desa itu berbuah manis. Pada tahun lalu Kampung Sawah yang juga dikenal sebagai KBA Lengkong Kulon ini berhasil meraih juara kedua tingkat Kabupaten Tangerang untuk program inovasi pencegahan stunting. Tak hanya itu, desa ini juga mendapat penghargaan dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya gizi bagi anak.Karena mereka adalah generasi penerus bangsa ini," tuturnya. Edukasi tentang pencegahan stunting sudah berhasil tercapai dengan gemilang. Pada tahun depan, desa ini akan membentuk Posyandu untuk remaja.

KBA Lengkong Kulon, merupakan satu dari 77 Kampung Berseri Astra yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Dengan pemahaman semangat #KitaSatuIndonesia warga desa itu terus menatap kedepan mengarungi samudera kehidupan berdampingan dengan kaum urban dengan berbagai latar belakang, dengan cita-cita mulia untuk mewariskan generasi unggul yang terus bergelora.

Kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan tentunya akan mengobarkan semangat #IndonesiaBicaraBaik bagi desa-desa sekitarnya, bahkan di seluruh penjuru nusantara.

Warga desa Kampung Sawah memiliki cita-cita mulia membagi ilmu yang diperolehnya bagi kesejahteraan masyarakat. "Kami bercita-cita bisa menghadirkan SDM unggul, dan bisa menularkan semua pencapaian ini ke semua masyarakat agar maju bersama," papar Lia.

Semerbak wangi aroma dari pohon buah rambutan dan mangga yang memasuki masa panen di desa itu mengiringi langkah warganya untuk naik kelas. Mereka yakin ke depan, kehidupan di desa itu tak lagi pedas, sepedas cabai rawit yang dijual Yadi.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak