alexametrics

Indef Sebut Ada Keanehan soal Inflasi yang Rendah

loading...
Indef Sebut Ada Keanehan soal Inflasi yang Rendah
Ilustrasi inflasi rendah. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudisthira, menilai ada yang aneh dari data inflasi sepanjang 2019 yang hanya 2,72%. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi 2019 sebesar 2,7% lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia yang mencapai 3,1%.

Bhima menilai sejatinya inflasi bisa sesuai target, dikarenakan momentum Natal dan Tahun Baru, dimana inflasi Desember hanya 0,34%. Dan di Manado, yang mayoritas beragama Kristen, harusnya Natal menyumbang inflasi tetapi justru deflasi 1,88%.

"Artinya ada gejala yang tidak sehat pada sisi permintaan. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh rendah disertai kekhawatiran naiknya iuran BPJS Kesehatan, harga rokok dan tarif tol tahun 2020 membuat masyarakat berhemat di akhir 2019," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (2/1/2020).



Dia melanjutkan cerminan konsumsi rumah tangga yang berperan 56% terhadap PDB terancam macet di 2020. Sehingga pertmbuhan ekonomi akan jauh dibawah target pemerintah. Indef memproyeksi di 2020, pertumbuhan ekonomi akan melandai ke 4,8%.

Dan dia menekankan bencana banjir bisa berdampak ke arus distribusi pangan. "Untuk awal tahun perlu mempertimbangkan dampak banjir yang berisiko mengganggu arus distribusi produk pangan ke Jabodetabek," jelasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak